18 Juni 2010

SUDAHKAH RIZKI KITA BERKAH??


Pernah tidak mengalami ketakutan akan kekurangan atau tidak memiliki rejeki, saya sering mengalaminya, saya sering merasa memiliki penghasilan tapi cuma numpang lewat, sehabis memperoleh uang saya pos-poskan uang pada keperluan masing masing dan disaat saat tertentu terkadang tidak memiliki cukup uang

Terkadang sering juga kembang-kempis. tapi ada sesuatu yang luar biasa yang saya rasakan walaupun kondisi kantong kembang kempis tapi alhamdulillah saya bisa melewati setiap bulan dengan selamat.

Ada seorang sahabat yang ternyata pendapatanya lebih besar dari saya ternyata tidak pernah bisa menabung, dan malah memiliki banyak hutang, loh kenapa...?

Dari sebuah obrolan yang panjang sahabat saya bercerita bahwa dia mendapat uang dari Gaji+"ngobjek". kenapa "ngobjek" saya kasih tanda kutip, karena usahanya

Adalah mencari lebih dengan cara yang tidak halal, misal dia mencari lembur, padahal tidak ada kerjaan, dia diam-diam mengambil barang bekas perusahaan utuk dijual kembali. Beliau ikut belanja, ketika perusahaa meminta untuk belanja untuk keperluan kantor.

Sahabat saya bercerita bahwa ketika dia mendapat pendapatan yang lebih dari cukup dari hasil ngobyeknya, setiap bulan banyak saja pengeluaran yang harus dikeluarkan, misal ketika kendaraanya/barangya rusak,atau dia/keluarga terkena penyakit, atau adanya pembelian suatu barang yang sebenernya tidak dia butuhkan (laper mata). dari diskusi singkat tersebut akhirnya kami menyadari bahwa kita tidak bisa berhitung bahwa rizki yang banyak akan membuat kita bisa mencukupi semua kebutuhan hidup kita. yang diperlukan adalah sebuah riski yang berkah.

Dengan rizki yang berkah ini Insya Allah kita terjaga dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT, serta di berikan kelapangan manfaat dari sesuatu yang kita miliki. Rizki yang berkah tidak harus berjumlah besar, tapi riski yang berkah memberi manfaat sangat banyak, saya memiliki satu contoh lagi tentang riski yang berkah.

Ada seorang sahabat berprofesi sebagai guru swasta, dengan penghasilan Rp 1.200.000, walau masih diatas UMR, gaji diatas terbilang sangat minimi apa lagi sahabat saya memiliki 2 orang anak untuk dinafkahi, tetapi alhamdulillah sahabat saya itu selalu bersukur dengan apa yang dimilikinya, tidak lupa mengeluarkan zakat 2,5% tiap bulanya, dan sungguh luar biasa sahabat saya ini tidak kekurangan, dan memiliki motor, dan bisa mengambil Kredit rumah. luar biasa.

Dibanding sahabat yang saya ceritakan pertama atau diatas jujur memiliki gaji Rp.2.000.000 dan belum menikah, tapi apa yang terjadi jangankan untuk mengambil kredit rumah untuk kehidupanya 1 bulan pun terkadang sahabat yang saya sebutkan diatas harus mencari hutangan sebelum tanggal gajian.

Kalau di ibaratkan sebuah laporan rugi/laba rizky yang berkah adalah pendapata bersih yang diterima setelah biaya-biaya tidak terduga dan pajak atau kata lainya rizky yang berkah adalah rizky bersih (net) sedangkan rizky yang tidak berkah itu adalah pendapatan kotor sebelum biaya yang dikeluarkan dan pajak, jadi rizky yang tidak berkah adalah rizky kotor. Lalu maksudnya apa Rizky yang berkah itu oleh Allah SWT kita diberikan dengan tidak adanya pemotongan biaya, semua biaya ditanggung Allah, maksudnya seperti contoh sahabat guru saya Alhamdulillah motor yang dimilikinya tidak pernah rusak/awet walau motor yang dimilikinya hanya sebuah motor usang, sedang motor sahabat satu lagi juga memiliki motor dengan keluaran mutakhir tetapi anehnya motornya sering keluar masuk bengkel.

Dari satu kasus kerusakan motor saja apa yang saya bilang biaya rizky berkah itu ditanggung Allah maka jika pengeluran untuk perbaikan sebut saja Rp.300.000, maka pengahasilan sahabat saya yang mendapat Rp.2.000.000 akan berkurang menjadi Rp.1.700.000, karena adanya biaya perbaikan motor. belum lagi kesehatan sahabat saya yang guru itu yang selalu prima, dan saya akui sahabat saya yang satu sering terkena penyakit maag,atau tidak enak badan. dan hal itu juga sebuah pengurangan lagi, sehingga akhirnya sahabat saya mendapat rezeky yang minus, beda dengan sahabat saya yang guru tersebut.

Dapat dilihat bahwa Rizky berkah itu adalah rizky bersih yang memang hak dari kita, sedang rizky tidak berkah adalah rizky yang kotor yang akan dikurangi oleh biaya-biaya yang tidak terduga. maka mulailah kita mencari rezeki yang berkah. lalu apa yang harus dilakukan untuk mendapat rizky yang berkah.
  1. Carilah rezeki dengan cara yang benar ada pepatah "uang setan akan di makan jin" (meski pepatah itu tidak benar) mulailah mencari rezeki dengan cara yang benar
  2. Selalu bersyukur dengan apa yang diberikan oleh Allah, walaupun itu hanya terlihat sedikit. karena sedikit itu adalah rezeky bersih yang kita terima
  3. Keluarkan Sesuatu yang bukan hak kita (zakat penghasilan 2,5%)
  4. Belanjakan Rezeki kita dijalan yang benar
  5. Belajar untuk berkata "Cukup"


Percuma memiliki harta yang banyak tetapi tidak berkah, banyak contoh telah dipertontonkan, kurang apa para pejabat yang korupsi, tetapi dari harta yang tidak berkah akan ada biaya yang besar yang harus ditanggungnya, mulai dari keutuhab keluarga, kesehatan keluarga, biaya-biaya yang tidak terduga, yang akan membuatnya menjadi sia-sia belaka. jangan tergiur dengan cara mudah mendapat rezeki, karena hanya akan mendatangkan bencana, tidak kah sebuah bencana ketika seorang yang korupsi tertangkap polisi, tersiar di media cetak. atau bencana yang akan datang silih berganti, Lihatlah bagaimana kebakaran telah menghanguskan harta benda, kebanjiran menghancurkan kepemilikan, gempa menenggelamkan yang ada.

“Sesungguhnya Allah Yang Maha Luas Karunia-nya lagi Maha Tinggi, akan menguji setiap hamba-Nya dengan rizki yang telah Ia berikan kepadanya. Barangsiapa yang ridha dengan pembagian Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah akan memberkahi dan melapangkan rizki tersebut untuknya. Dan barangsiapa yang tidak ridha (tidak puas), niscaya rizkinya tidak akan diberkahi” [HR Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani]

"Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah"
(2.172)

"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan."
(2.245)

"Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)"
(13.22)

Maka mari kita cari keberkahan rizky dari Allah SWT, bukan banyaknya Rizki dengan cara yang haram.

07 Juni 2010

●●10 HAL YANG MENDATANGKAN CINTA ALLAH●●

Semoga kita senantiasa mendapatkan kecintaan Allah, itulah yang seharusnya dicari setiap hamba dalam setiap detak jantung dan setiap nafasnya.

Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa man tabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin.

Saudaraku, sungguh setiap orang pasti ingin mendapatkan kecintaan Allah. Lalu bagaimanakah cara cara untuk mendapatkan kecintaan tersebut. Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan beberapa hal untuk mendapatkan maksud tadi dalam kitab beliau Madarijus Salikin.

Pertama, membaca Al Qur’an dengan merenungi dan memahami maknanya. Hal ini bisa dilakukan sebagaimana seseorang memahami sebuah buku yaitu dia menghafal dan harus mendapat penjelasan terhadap isi buku tersebut. Ini semua dilakukan untuk memahami apa yang dimaksudkan oleh si penulis buku. [Maka begitu pula yang dapat dilakukan terhadap Al Qur’an, pen]

Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan ibadah yang sunnah, setelah mengerjakan ibadah yang wajib. Dengan inilah seseorang akan mencapai tingkat yang lebih mulia yaitu menjadi orang yang mendapatkan kecintaan Allah dan bukan hanya sekedar menjadi seorang pecinta.

Ketiga, terus-menerus mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik dengan hati dan lisan atau dengan amalan dan keadaan dirinya. Ingatlah, kecintaan pada Allah akan diperoleh sekadar dengan keadaan dzikir kepada-Nya.

Keempat, lebih mendahulukan kecintaan pada Allah daripada kecintaan pada dirinya sendiri ketika dia dikuasai hawa nafsunya. Begitu pula dia selalu ingin meningkatkan kecintaan kepada-Nya, walaupun harus menempuh berbagai kesulitan.

Kelima, merenungi, memperhatikan dan mengenal kebesaran nama dan sifat Allah. Begitu pula hatinya selalu berusaha memikirkan nama dan sifat Allah tersebut berulang kali. Barangsiapa mengenal Allah dengan benar melalui nama, sifat dan perbuatan-Nya, maka dia pasti mencintai Allah. Oleh karena itu, mu’athilah, fir’auniyah, jahmiyah (yang kesemuanya keliru dalam memahami nama dan sifat Allah), jalan mereka dalam mengenal Allah telah terputus (karena mereka menolak nama dan sifat Allah tersebut).

Keenam, memperhatikan kebaikan, nikmat dan karunia Allah yang telah Dia berikan kepada kita, baik nikmat lahir maupun batin. Inilah faktor yang mendorong untuk mencintai-Nya.

Ketujuh, -inilah yang begitu istimewa- yaitu menghadirkan hati secara keseluruhan tatkala melakukan ketaatan kepada Allah dengan merenungkan makna yang terkandung di dalamnya.

Kedelapan, menyendiri dengan Allah di saat Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir untuk beribadah dan bermunajat kepada-Nya serta membaca kalam-Nya (Al Qur’an). Kemudian mengakhirinya dengan istighfar dan taubat kepada-Nya.

Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang mencintai Allah dan bersama para shidiqin. Kemudian memetik perkataan mereka yang seperti buah yang begitu nikmat. Kemudian dia pun tidaklah mengeluarkan kata-kata kecuali apabila jelas maslahatnya dan diketahui bahwa dengan perkataan tersebut akan menambah kemanfaatan baginya dan juga bagi orang lain.

Kesepuluh, menjauhi segala sebab yang dapat mengahalangi antara dirinya dan Allah Ta’ala.

Semoga kita senantiasa mendapatkan kecintaan Allah, itulah yang seharusnya dicari setiap hamba dalam setiap detak jantung dan setiap nafasnya. Ibnul Qayyim mengatakan bahwa kunci untuk mendapatkan itu semua adalah dengan mempersiapkan jiwa (hati) dan membuka mata hati.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallalahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Sumber: Madaarijus Saalikin, 3/ 16-17, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Darul Hadits Al Qohiroh

Diposting kembali oleh : Rudy Indrasakti

25 Mei 2010

SURAU DALAM RUMAH KELUARGA MADURA



Oleh : Raziq Hasan

Kalau orang Madura disebut sebagai muslim yang kolot, taat, fanatik dan selalu menempatkan kesenian atau seluruh perangkat kebudayaan yang bercirikan Islam sebagai yang tertinggi, sebagaimana banyak ditulis oleh para sosiolog, antropolog maupun etnolog Madura sebutlah John Smith, Anke Neihof, Roy Jordaan, Ellen Town Bousma, Helena Bouvier atau Kuntowijoyo.
Tentu bukan hanya karena hasrat masyarakatnya yang menggelegak untuk segera melunaskan ibadah haji dan kemudian merasa alim dan jeri dari tingkah dosa dengan tambahan gelar Haji di depan namanya. Sekalipun untuk itu mereka rela menjual rumah, tanah, kendaraan atau apapun harta yang dimilikinya sampai tak ada lagi yang tersisa. Sehingga banyak para materialist meremehkan mereka sebagai orang yang tidak rasional dan memutus harapan masa depan.
Juga bukan karena para lelakinya yang kemana-mana bangga dengan hanya selalu memakai kopiah dan sarung, pakaian wajib untuk menunaikan sholat. Atau perempuannya cukup dengan baju kuthubaru dan kerudung menutupi kepalanya demi menyimpan aurat sebagaimana diperintahkan Islam.
Juga tentu saja bukan karena masyarakatnya yang sangat maklum bila banyak di antara para lelakinya punya istri hingga empat orang sebagaimana dipercaya sebagai sunnah Rasulullah. Dan para perempuannyapun tak hirau harus hidup serumah dengan para madunya. Baginya punya anak dan membesarkannya dengan penuh tanggung jawab dua pihak adalah akhir dari cinta. Dan mereka tak kurang sejumputpun cinta lelaki suami diantara riuhnya perempuan yang dinikahinya. Tak ada ruang untuk saling iri. Justru mereka sukarela untuk saling bekerja sama membesarkan anak-anak keluarga besar mereka dengan damai dan cinta kasih.
Lalu mengapa? Masyarakat Madura dikenal sebagai masyarakat yang sangat Islami?
Sudah tamat saya keliling seluruh Indonesia mengamati seluruh arsitektur dan keterkatannya dengan kondisi sosio kultural masyarakatnya. Sudah pula kami amati bagaimana manusia dan masyarakatnya berinteraksi dengan ruang-ruang yang dibangunnya di atas hamparan bumi Ilahi. Dari ujung Barat pulau di seberang Malahayati hingga ke Timur di Merauke. Bahkan di negeri mashur tempat puncak kejayaan Islam dan di seluruh literatur arsitektur Islam yang sempat saya baca. Tidak ada satupun tempat sebagaimana rumah tradisional masyarakat Madura yang menjadikan surau sebagai elemen penting yang harus ada melebihi fungsi bangunan lainnya.
Surau di dalam lingkungan rumah tradisional keluarga Madura adalah bangunan kedua yang selalu di bangun sesudah rumah induk (roma tongghu). Biasanya selalu ditempatkan di sebelah Barat atau arah kiblat. Dan di depannya terhampar tanean lanjhang (halaman yang panjang) yang terbentuk karena perkembangan pembangunan rumah selanjutnya yang dibangun berjejer berturut-turut di sebelah rumah induk untuk anak-anak perempuan dan keluarganya.
Perletakan surau betul-betul menjadi sumbu utama yang mengikat keseluruhan bangunan di dalam satuan komunitas (soma) keluarga-keluarga besar Madura. Surau selain untuk sholat dan mengaji biasanya juga dijadikan tempat tidur anak lelaki mereka yang belum berkeluarga dan para tamu lelaki yang datang menginap. Pada titik ini surau telah menjadi ruang transisi atau ruang antara yang memisah gender lelaki dan wanita. Suatu taktik jitu untuk menghindarkan nista. Tanpa disadari tamu pun mahfum bahwa ruang mukim Madura sedemikian rupa di jenjang dalam tahap-tahap yang sistematik. Antara ruang publik dan ruang privat, ruang lelaki dan ruang wanita, ruang profan dan ruang sakral, ruang anak dan ruang tetua, ruang keluarga sendiri (oreng dhibi’) atau bukan (oreng laen). Semuanya memiliki tatakrama-nya sendiri.
Secara visual dan audial, surau membangun atmosfir Islami yang sangat sempurna. Bentuk atap yang lancip dengan lantai agak lebih tinggi dari bangunan lain menjadikan surau bagai pemimpin di tengah massa yang lain. Dinding depan yang agak rendah dan semi terbuka menampilkan irama gerak sholat yang rampak dengan takbir yang bersahutan. Lima kali sehari suaranya mengumandangkan azdan setiap menjelang waktu solat. Anak-anak tanpa diaba saling berebut untuk menjadi muadzin dan bergegas meninggalkan apapun yang sedang mereka kerjakan. Pun para orang tua juga hirau meninggalkan apapun kegiatannya untuk berjamaah dan memimpin anak-anak mereka tunaikan solat. Dan sesekali diberinya kesempatan remaja mereka yang mulai fasih melafadz sedikit al-Qur’an untuk menjadi imam dan merasai peran kepemimpinan yang akan dipikulnya kelak. Dari ketinggian atap langit tampak surau dan rumah-rumah keluarga Madura sebagai unit-unit yang padan dalam panduan sumbu kiblat.
Ketika fajar menyingsing, surau mulai meneriakkan ajakan subuh bersama. Itulah waktu pertama dimulainya hari hidup ke depan sebelum anak-anak mereka bergegas menuntut ilmu dan para orang tua mengais rahmat Allah. Ketika terik langit tergelincir dari puncaknya, dhuhur segera ditegakkan. Sesudahnya, sanak keluarga berkumpul untuk sekadar makan siang dalam keriuhan bersama. Lalu merekapun istirahat sejenak sampai cahaya matahari telah lepas dan bayangannya melebihi panjangnya benda, petanda ashar telah tiba. Sesudahnya riuh anak berlarian diantara pandangan kasih sanak keluarganya di tengah tanean lanjang yang bersinggungan dengan beranda rumah-rumah yang berjejer. Dan ketika langit merah telah usai ditimpa bulan yang masuk ke semburat langit seluruh keluarga dan berayat bergegas siap mengambil tempat untuk berebut shaf paling depan dalam barisan jemaah maghrib. Dan sesudahnya anak-anak mereka reriung belajar membaca al-Qur’an pada orang tua pemimpin mereka sampai saat Isya tiba. Di tengah temaram lentera riuh ayat demi ayat membubung ke langit sunyi tempat semayam para malaikat.
Demikianlah masa demi masa berlalu dengan penuh pembinaan dan hikmah. Surau telah mengambil peran yang begitu penting dalam hidup orang Madura. Keheningannya mengumandangkan nuansa Islami yang sempurna sejak hidup dijejak sampai ajal menjemput. Penghuni rumah dalam tanean lanjhang itu datang silih berganti bersamaan dengan usainya batas usia mereka. Dan surau itu masih saja setia menunaikan tugasnya… the truly Islamic semiotica…
Diposting kembali oleh Rudy Indrasakti

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...