Tampilkan postingan dengan label sabiilussalam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sabiilussalam. Tampilkan semua postingan

17 Oktober 2010

Pengaruh Teman Bergaul Yang Baik


Teman bergaul dan lingkungan yang Islami, sungguh sangat mendukung seseorang menjadi lebih baik dan bisa terus istiqomah. Sebelumnya bisa jadi malas-malasan. Namun karena melihat temannya tidak sering tidur pagi, ia pun rajin. Sebelumnya menyentuh al Qur’an pun tidak. Namun karena melihat temannya begitu rajin tilawah Al Qur’an, ia pun tertular rajinnya.
Perintah Agar Bergaul dengan Orang-Orang yang Sholih
Allah menyatakan dalam Al Qur'an bahwa salah satu sebab utama yang membantu menguatkan iman para shahabat Nabi adalah keberadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah-tengah mereka. Allah Ta’ala berfirman,
وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آَيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
"Bagaimana mungkin (tidak mungkin) kalian menjadi kafir, sedangkan ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nyapun berada ditengah-tengah kalian? Dan barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (QS. Ali 'Imran: 101).
Allah juga memerintahkan agar selalu bersama dengan orang-orang yang baik. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar(jujur)." (QS. At Taubah: 119).
Berteman dengan Pemilik Minyak Misk
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita agar bersahabat dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan sering menasehati kita.
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً
Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101, dari Abu Musa)
Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Hadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Dan hadits ini juga menunjukkan dorongan agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.”[1]
Memandangnya Saja Sudah Membuat Hati Tenang
Para ulama pun memiliki nasehat agar kita selalu dekat dengan orang sholih.
Al Fudhail bin ‘Iyadh berkata,
نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو القَلْبَ
Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati.”[2] Maksud beliau adalah dengan hanya memandang orang sholih, hati seseorang bisa kembali tegar. Oleh karenanya, jika orang-orang sholih dahulu kurang semangat dan tidak tegar dalam ibadah, mereka pun mendatangi orang-orang sholih lainnya.
‘Abdullah bin Al Mubarok mengatakan, “Jika kami memandang Fudhail bin ‘Iyadh, kami akan semakin sedih dan merasa diri penuh kekurangan.”
Ja’far bin Sulaiman mengatakan, “Jika hati ini ternoda, maka kami segera pergi menuju Muhammad bin Waasi’.”[3]
Ibnul Qayyim mengisahkan, “Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan sempit dalam menjalani hidup, kami segera mendatangi Ibnu Taimiyah untuk meminta nasehat. Maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang”.[4]
Lihatlah Siapa Teman Karibmu!
Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam bersabda,
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, Ahmad 2/344, dari Abu Hurairah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shohihul Jaami’ 3545).

Al Ghozali rahimahullah mengatakan, “Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud dalam masalah dunia. Karena memang asalnya seseorang akan mencontoh teman dekatnya.”[5]
Oleh karena itu, pandai-pandailah memilih teman bergaul. Jauhilah teman bergaul yang jelek jika tidak mampu merubah mereka. Jangan terhanyut dengan pergaulan yang malas-malasan dan penuh kejelekan. Banyak sekali yang menjadi baik karena pengaruh lingkungan yang baik. Yang sebelumnya malas shalat atau malas shalat jama’ah, akhirnya mulai rajin. Sebaliknya, banyak yang menjadi rusak pula karena lingkungan yang jelek.
Semoga Allah mudahkan dan beri taufik untuk terus istiqomah dalam agama ini.

Disusun di Sakan 27, KSU, Riyadh, KSA, pada 26 Syawal 1431 H (4/10/2010)
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal



[1] Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 4/324, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379
[2] Siyar A’lam An Nubala’, 8/435, Mawqi’ Ya’sub.
[3] Ta’thirul Anfas min Haditsil Ikhlas,  Sayyid bin Husain Al ‘Afani, hal. 466, Darul ‘Affani, cetakan pertama, tahun 1421 H
[4] Lihat Shahih Al Wabilush Shoyyib, antara hal. 91-96, Dar Ibnul Jauziy
[5] Tuhfatul Ahwadzi, Abul ‘Ala Al Mubarakfuri, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut, 7/42

07 Juni 2010

●●10 HAL YANG MENDATANGKAN CINTA ALLAH●●

Semoga kita senantiasa mendapatkan kecintaan Allah, itulah yang seharusnya dicari setiap hamba dalam setiap detak jantung dan setiap nafasnya.

Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa man tabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin.

Saudaraku, sungguh setiap orang pasti ingin mendapatkan kecintaan Allah. Lalu bagaimanakah cara cara untuk mendapatkan kecintaan tersebut. Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan beberapa hal untuk mendapatkan maksud tadi dalam kitab beliau Madarijus Salikin.

Pertama, membaca Al Qur’an dengan merenungi dan memahami maknanya. Hal ini bisa dilakukan sebagaimana seseorang memahami sebuah buku yaitu dia menghafal dan harus mendapat penjelasan terhadap isi buku tersebut. Ini semua dilakukan untuk memahami apa yang dimaksudkan oleh si penulis buku. [Maka begitu pula yang dapat dilakukan terhadap Al Qur’an, pen]

Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan ibadah yang sunnah, setelah mengerjakan ibadah yang wajib. Dengan inilah seseorang akan mencapai tingkat yang lebih mulia yaitu menjadi orang yang mendapatkan kecintaan Allah dan bukan hanya sekedar menjadi seorang pecinta.

Ketiga, terus-menerus mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik dengan hati dan lisan atau dengan amalan dan keadaan dirinya. Ingatlah, kecintaan pada Allah akan diperoleh sekadar dengan keadaan dzikir kepada-Nya.

Keempat, lebih mendahulukan kecintaan pada Allah daripada kecintaan pada dirinya sendiri ketika dia dikuasai hawa nafsunya. Begitu pula dia selalu ingin meningkatkan kecintaan kepada-Nya, walaupun harus menempuh berbagai kesulitan.

Kelima, merenungi, memperhatikan dan mengenal kebesaran nama dan sifat Allah. Begitu pula hatinya selalu berusaha memikirkan nama dan sifat Allah tersebut berulang kali. Barangsiapa mengenal Allah dengan benar melalui nama, sifat dan perbuatan-Nya, maka dia pasti mencintai Allah. Oleh karena itu, mu’athilah, fir’auniyah, jahmiyah (yang kesemuanya keliru dalam memahami nama dan sifat Allah), jalan mereka dalam mengenal Allah telah terputus (karena mereka menolak nama dan sifat Allah tersebut).

Keenam, memperhatikan kebaikan, nikmat dan karunia Allah yang telah Dia berikan kepada kita, baik nikmat lahir maupun batin. Inilah faktor yang mendorong untuk mencintai-Nya.

Ketujuh, -inilah yang begitu istimewa- yaitu menghadirkan hati secara keseluruhan tatkala melakukan ketaatan kepada Allah dengan merenungkan makna yang terkandung di dalamnya.

Kedelapan, menyendiri dengan Allah di saat Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir untuk beribadah dan bermunajat kepada-Nya serta membaca kalam-Nya (Al Qur’an). Kemudian mengakhirinya dengan istighfar dan taubat kepada-Nya.

Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang mencintai Allah dan bersama para shidiqin. Kemudian memetik perkataan mereka yang seperti buah yang begitu nikmat. Kemudian dia pun tidaklah mengeluarkan kata-kata kecuali apabila jelas maslahatnya dan diketahui bahwa dengan perkataan tersebut akan menambah kemanfaatan baginya dan juga bagi orang lain.

Kesepuluh, menjauhi segala sebab yang dapat mengahalangi antara dirinya dan Allah Ta’ala.

Semoga kita senantiasa mendapatkan kecintaan Allah, itulah yang seharusnya dicari setiap hamba dalam setiap detak jantung dan setiap nafasnya. Ibnul Qayyim mengatakan bahwa kunci untuk mendapatkan itu semua adalah dengan mempersiapkan jiwa (hati) dan membuka mata hati.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallalahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Sumber: Madaarijus Saalikin, 3/ 16-17, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Darul Hadits Al Qohiroh

Diposting kembali oleh : Rudy Indrasakti

20 Januari 2010

PENGELOLAAN MASJID


Peran dan pentingnya masjid bagi umat 

Dalam pandangan Islam masjid merupakan pusat yang sangat strategis untuk membina masyarakat yang islami. Terbukti ketika Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam tiba di Madinah sewaktu beliau hijrah maka pertama kali proyek yang beliau kerjakan adalah membangun masjid. 

Dari masjid inilah terbentuk pasukan jihad yang amat besar dan tangguh dan di sinilah assabiqunal awwalun dari kaum Muhajirin dan Anshar dididik, demikian pula orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka jadilah masjid sebagai sumber pelita dan tempat memancarnya cahaya petunjuk yang terang benderang. 

Masjid juga berfungsi sebagai tempat perkumpulan, titik tolak, tempat beribadah, arena pendidikan, penggalangan jihad, halaqah ilmu juga majlis syura, pemutusan perkara dan pengaturan strategi.

Masjid ibarat ladang yang amat luas yang siap untuk digarap dengan ber-bagai aktivitas kegiatan, ia juga seperti sarang lebah yang tidak boleh kosong dari orang yang rukuk, sujud, berdzikir kepada Allah, membaca Al Qur'an, belajar dan mengajarkan ilmu. 

Imam masjid dan kedudukannya 

Imam masjid memiliki posisi yang tinggi ditengah-tengah masyarakat, ucapannya banyak didengar serta pendapatnya cenderung untuk diterima. Bagaimana seorang imam tidak memiliki posisi ini sedangkan masyarakat telah menjadikannya pemimpin dalam menjalankan syiar yang amat besar dari syiar-syiar Islam yaitu shalat. 

Berpijak dari posisinya yang strategis, baik dari sudut pandang agama maupun sosial maka seorang imam masjid hendaknya menghadapi ini semua dengan memberi porsi yang maksimal sesuai dengan lingkup masyarakatnya. Imam masjid adalah seorang saudara yang senantiasa menasehati, seorang ayah yang penuh kasih sayang sekaligus seorang anak yang berbakti. 

Beberapa saran untuk imam masjid 
Para fungsionaris masjid memiliki tugas yang amat besar sesuai dengan tuntutan syari'at Islam. Untuk membantu melancarkan tugas yang mulia ini ada beberapa saran penting yang diambil dari hasil ketetapan progran kerja para imam, muadzin dan pelayan masjid di Saudi Arabia, diantara point yang terpenting adalah: 


1. Menyampaikan pengarahan dan mauizhah

Dalam hal ini imam hendaknya memilih waktu yang pas bagi para jama'ahnya seperti setelah selesai shalat, atau dalam perkumpulan rutin mingguan, moment kekeluargaan dan kemasyarakatan. Dalam menyampaikan mauizhah ini perlu diperhatikan beberapa hal dibawah ini:       
o Hendaknya materi dipersiapkan terlebih dahulu dan disusun secara logis 
o Memilih materi yang sekiranya mengigit dan penting untuk diketahui umat 
o Memilih kalimat yang dapat menyentuh seluruh lapisan dan memperhatikan kondisi kejiwaan mereka. 
o Hendaknya ringkas dan memiliki sasaran yang jelas 
o Membuat tenggang waktu dan jangan berlebihan dalam menyampaikan nasihat dalam arti jangan terlalu panjang dan sering supaya tidak menimbulkan kejemuan dan rasa bosan. 
  
2. Mengadakan kajian-kajian

Sangat bagus jika para imam mengadakan kajian-kajian di masjid untuk memberikan penjelasan kepada para jamaah dan masyarakat terutama bagi kalangan pemuda. 
Sebaiknya imam masjid membuat halaqah khusus unruk membahas salah satu bidang materi baik itu aqidah, tafsir, hadits, fiqih, sirah atau akhlak, mungkin juga tentang pendidikan.
  
3. Pengajian umum dan seminar
  
o Sangat dianjurkan bagi imam masjid untuk mengadakan pengajian umum atau seminar dengan mengundang ulama dan tokoh yang mumpuni. 
o Menggalang kerjasama dangan kantor-kantor dan lembaga dakwah sekitar untuk penyelenggaraan pengajian ataupun seminar. 
o Sebaiknya imam masjid bersikap proaktif dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut jangan sekedar menunggu tawaran atau ajakan dari pihak luar. 
  
4. Kelompok hafalan Al Qur'an

Ini merupakan sarana taqarub kepada Allah yangsangat utama, maka selayaknya imam masjid mengadakan halaqah tahfidzil qur'an serta menen-tukan klasifikasinya, yaitu: 
o Kelompok khusus untuk anak-anak 
o Kelompok untuk usia dewasa 
o Kelompok khusus wanita

Sebaiknya dibentuk sebuah panitia yang mengurusi kegiatan ini yang fungsinya selain untuk membantu imam masjid juga untuk mengontrol jalannya kegiatan. 
  
5. Kunjungan berkala

Kunjungan seperti ini merupakan sebuah kesempatan yang sangat bagus untuk mendiskusikan berbagai masalah penting di masyarakat seperti: 

o Mendiskusikan putra-putri dan bagai-mana menyikapi kondisi mereka. 
o Membicarakan sebagian anggota masyarakat yang enggan shalat berjamaah dan                  menyepelekannya. 
o Mendiskusikan permasalahan-permasalahan penting yang ada di masyarakat. 
  
6. Memberi himbauan kepada masyarakat untuk berperan dalam kegiatan            sosial kemanusiaan. 
  
o Yaitu dengan memberikan penjelasan tentang pentingnya kegiatan tersebut dengan menyampaikan ayat-ayat atau hadits yang menganjurkan untuk berinfaq fisabilillah. 
o Diantara bentuk-bentuk kegiatan yang dapat dilakukan adalah: 
a. Kegiatan buka puasa bersama di bulan Ramadhan. 
b. Bantuan untuk para aktivis dan pejuang muslim diseluruh dunia. 
c. Kegiatan untuk membendung kristenisasi dan para misionaris. 
d. Pencetakan buku dan penyebaran kaset-kaset Islam. Dan lain-lain 



 
o Perlu bagi pengelola masjid untuk memperkenalkan Yayasan dan lembaga-lembaga kemanusiaan kepada masyarakat. 
o Diusahakan untuk membentuk sebuah panitia atau pengurus yang menangani berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan khususnya untuk kegiatan di masjid dan sekitarnya. 
o Menjalin hubungan dengan para donatur atau muhsinin agar bersedia menyalurkan sebagian hartanya untuk kegiatan tersebut. 
  
7. Memperhatikan keberadaan kaum wanita

Para wanita juga berhak memperoleh porsi yang memadai dalam hal pengajaran dan pendidikan. 
Untuk itu pengelola masjid khusus-nya para imam dianjurkan supaya melakukan hal-hal sebagai berikut: 
o Menyampaikan nasehat atau ceramah kepada kaum wanita pada bulan Ramadhan khususnya seusai shalat tarawih. 
o Sangat ditekankan untuk menyampai-kan materi-materi seputar hukum thaharah(bersuci), shalat, shiyam, pendididkan anak, hak-hak suami istri serta memperingatkan mereka dari berbagai bentuk kemungkaran yang banyak terjadi. 
o Mengundang ulama atau ustadz untuk menyampaikan pengarahan dan nasehat kepada para wanita. 
o Menyediakan tempat khusus bagi kaum wanita dimasjid dalam acara muhadharah/pengajian atau seminar. 


Saran-saran umum 


Untuk menggiatkan jama'ah masjid dan anggota masyarakat ada beberapa saran yang dapat dilakukan yaitu: 


1. Menyelenggarakan acara berbuka puasa bersama untuk seluruh jama'ah masjid dan masyarakat sekitar. 
2. Melontarkan ide i'tikaf di bulan Ramadhan sebagi tindak lanjut. 
3. Membuka perpustakaan umum di dalam masjid serta menyediakan ruang bacaan. 
4. Memperhatikan warga yang kesulitan dan sangat membutuhkan serta mengulurkan tangan untuk fakir miskin. 
5. Sebagai realisasinya diadakan dompet amal untuk menampung bantuan dari para donatur. 
6. Menganjurkan kepada masyara-kat agar tidak melakukan pemborosan dalam acara atau pesta yang mereka selenggarakan. Dan sebaiknya jika ada dana yang berlebihan disalurkan untuk kepentingan dakwah dan kemanusiaan. 
7. Memberikan hadiah setiap jangka waktu tertentu berupa kaset dan buku-buku islam yang bermanfaat. 
8. Menganjurkan jamaah masjid agar berperan dalam amar ma'ruf nahi mungkar. 
9. Menyediakan kotak saran dimasjid agar para jama'ah dapat menyampaikan usulan, pertanyaan ataupun konsultasi. 
10. Menyediakan papan informasi di masjid dengan memperhatikan penataan, penerbitan serta rutinitasnya. Hendaknya dibagi menjadi kolom-kolom beragam misalnya tentang fatwa, pendidikan, kajian serta ruang informasi umum. 
11. Dianjurkan bagi pengurus masjid untuk berperan dalam mem-bantu jamaah dalam mengatur waktu misalnya dengan membuatkan jadwal harian seorang mulim serta mensosialisasikannya. 
12. Menyelenggarakan berbagai lomba dan kuis untuk menggugah minat serta menggiatkan anak-anak dan remaja agar aktif menelaah dan meneliti berbagai persoalan. 
13. Jika memungkinkan dapat membuka biro bimbingan haji dan umrah. 


Disarikan dari kutaib "Risalatul Masjid", karya Manshur bin Abdul Aziz Al Khuraiji, Darul Ma'arij Ad Dauliyah Riyadh. (Dept. Ilmiah)



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...