07 Juni 2010

●●10 HAL YANG MENDATANGKAN CINTA ALLAH●●

Semoga kita senantiasa mendapatkan kecintaan Allah, itulah yang seharusnya dicari setiap hamba dalam setiap detak jantung dan setiap nafasnya.

Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa man tabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin.

Saudaraku, sungguh setiap orang pasti ingin mendapatkan kecintaan Allah. Lalu bagaimanakah cara cara untuk mendapatkan kecintaan tersebut. Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan beberapa hal untuk mendapatkan maksud tadi dalam kitab beliau Madarijus Salikin.

Pertama, membaca Al Qur’an dengan merenungi dan memahami maknanya. Hal ini bisa dilakukan sebagaimana seseorang memahami sebuah buku yaitu dia menghafal dan harus mendapat penjelasan terhadap isi buku tersebut. Ini semua dilakukan untuk memahami apa yang dimaksudkan oleh si penulis buku. [Maka begitu pula yang dapat dilakukan terhadap Al Qur’an, pen]

Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan ibadah yang sunnah, setelah mengerjakan ibadah yang wajib. Dengan inilah seseorang akan mencapai tingkat yang lebih mulia yaitu menjadi orang yang mendapatkan kecintaan Allah dan bukan hanya sekedar menjadi seorang pecinta.

Ketiga, terus-menerus mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik dengan hati dan lisan atau dengan amalan dan keadaan dirinya. Ingatlah, kecintaan pada Allah akan diperoleh sekadar dengan keadaan dzikir kepada-Nya.

Keempat, lebih mendahulukan kecintaan pada Allah daripada kecintaan pada dirinya sendiri ketika dia dikuasai hawa nafsunya. Begitu pula dia selalu ingin meningkatkan kecintaan kepada-Nya, walaupun harus menempuh berbagai kesulitan.

Kelima, merenungi, memperhatikan dan mengenal kebesaran nama dan sifat Allah. Begitu pula hatinya selalu berusaha memikirkan nama dan sifat Allah tersebut berulang kali. Barangsiapa mengenal Allah dengan benar melalui nama, sifat dan perbuatan-Nya, maka dia pasti mencintai Allah. Oleh karena itu, mu’athilah, fir’auniyah, jahmiyah (yang kesemuanya keliru dalam memahami nama dan sifat Allah), jalan mereka dalam mengenal Allah telah terputus (karena mereka menolak nama dan sifat Allah tersebut).

Keenam, memperhatikan kebaikan, nikmat dan karunia Allah yang telah Dia berikan kepada kita, baik nikmat lahir maupun batin. Inilah faktor yang mendorong untuk mencintai-Nya.

Ketujuh, -inilah yang begitu istimewa- yaitu menghadirkan hati secara keseluruhan tatkala melakukan ketaatan kepada Allah dengan merenungkan makna yang terkandung di dalamnya.

Kedelapan, menyendiri dengan Allah di saat Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir untuk beribadah dan bermunajat kepada-Nya serta membaca kalam-Nya (Al Qur’an). Kemudian mengakhirinya dengan istighfar dan taubat kepada-Nya.

Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang mencintai Allah dan bersama para shidiqin. Kemudian memetik perkataan mereka yang seperti buah yang begitu nikmat. Kemudian dia pun tidaklah mengeluarkan kata-kata kecuali apabila jelas maslahatnya dan diketahui bahwa dengan perkataan tersebut akan menambah kemanfaatan baginya dan juga bagi orang lain.

Kesepuluh, menjauhi segala sebab yang dapat mengahalangi antara dirinya dan Allah Ta’ala.

Semoga kita senantiasa mendapatkan kecintaan Allah, itulah yang seharusnya dicari setiap hamba dalam setiap detak jantung dan setiap nafasnya. Ibnul Qayyim mengatakan bahwa kunci untuk mendapatkan itu semua adalah dengan mempersiapkan jiwa (hati) dan membuka mata hati.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallalahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Sumber: Madaarijus Saalikin, 3/ 16-17, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Darul Hadits Al Qohiroh

Diposting kembali oleh : Rudy Indrasakti

25 Mei 2010

SURAU DALAM RUMAH KELUARGA MADURA



Oleh : Raziq Hasan

Kalau orang Madura disebut sebagai muslim yang kolot, taat, fanatik dan selalu menempatkan kesenian atau seluruh perangkat kebudayaan yang bercirikan Islam sebagai yang tertinggi, sebagaimana banyak ditulis oleh para sosiolog, antropolog maupun etnolog Madura sebutlah John Smith, Anke Neihof, Roy Jordaan, Ellen Town Bousma, Helena Bouvier atau Kuntowijoyo.
Tentu bukan hanya karena hasrat masyarakatnya yang menggelegak untuk segera melunaskan ibadah haji dan kemudian merasa alim dan jeri dari tingkah dosa dengan tambahan gelar Haji di depan namanya. Sekalipun untuk itu mereka rela menjual rumah, tanah, kendaraan atau apapun harta yang dimilikinya sampai tak ada lagi yang tersisa. Sehingga banyak para materialist meremehkan mereka sebagai orang yang tidak rasional dan memutus harapan masa depan.
Juga bukan karena para lelakinya yang kemana-mana bangga dengan hanya selalu memakai kopiah dan sarung, pakaian wajib untuk menunaikan sholat. Atau perempuannya cukup dengan baju kuthubaru dan kerudung menutupi kepalanya demi menyimpan aurat sebagaimana diperintahkan Islam.
Juga tentu saja bukan karena masyarakatnya yang sangat maklum bila banyak di antara para lelakinya punya istri hingga empat orang sebagaimana dipercaya sebagai sunnah Rasulullah. Dan para perempuannyapun tak hirau harus hidup serumah dengan para madunya. Baginya punya anak dan membesarkannya dengan penuh tanggung jawab dua pihak adalah akhir dari cinta. Dan mereka tak kurang sejumputpun cinta lelaki suami diantara riuhnya perempuan yang dinikahinya. Tak ada ruang untuk saling iri. Justru mereka sukarela untuk saling bekerja sama membesarkan anak-anak keluarga besar mereka dengan damai dan cinta kasih.
Lalu mengapa? Masyarakat Madura dikenal sebagai masyarakat yang sangat Islami?
Sudah tamat saya keliling seluruh Indonesia mengamati seluruh arsitektur dan keterkatannya dengan kondisi sosio kultural masyarakatnya. Sudah pula kami amati bagaimana manusia dan masyarakatnya berinteraksi dengan ruang-ruang yang dibangunnya di atas hamparan bumi Ilahi. Dari ujung Barat pulau di seberang Malahayati hingga ke Timur di Merauke. Bahkan di negeri mashur tempat puncak kejayaan Islam dan di seluruh literatur arsitektur Islam yang sempat saya baca. Tidak ada satupun tempat sebagaimana rumah tradisional masyarakat Madura yang menjadikan surau sebagai elemen penting yang harus ada melebihi fungsi bangunan lainnya.
Surau di dalam lingkungan rumah tradisional keluarga Madura adalah bangunan kedua yang selalu di bangun sesudah rumah induk (roma tongghu). Biasanya selalu ditempatkan di sebelah Barat atau arah kiblat. Dan di depannya terhampar tanean lanjhang (halaman yang panjang) yang terbentuk karena perkembangan pembangunan rumah selanjutnya yang dibangun berjejer berturut-turut di sebelah rumah induk untuk anak-anak perempuan dan keluarganya.
Perletakan surau betul-betul menjadi sumbu utama yang mengikat keseluruhan bangunan di dalam satuan komunitas (soma) keluarga-keluarga besar Madura. Surau selain untuk sholat dan mengaji biasanya juga dijadikan tempat tidur anak lelaki mereka yang belum berkeluarga dan para tamu lelaki yang datang menginap. Pada titik ini surau telah menjadi ruang transisi atau ruang antara yang memisah gender lelaki dan wanita. Suatu taktik jitu untuk menghindarkan nista. Tanpa disadari tamu pun mahfum bahwa ruang mukim Madura sedemikian rupa di jenjang dalam tahap-tahap yang sistematik. Antara ruang publik dan ruang privat, ruang lelaki dan ruang wanita, ruang profan dan ruang sakral, ruang anak dan ruang tetua, ruang keluarga sendiri (oreng dhibi’) atau bukan (oreng laen). Semuanya memiliki tatakrama-nya sendiri.
Secara visual dan audial, surau membangun atmosfir Islami yang sangat sempurna. Bentuk atap yang lancip dengan lantai agak lebih tinggi dari bangunan lain menjadikan surau bagai pemimpin di tengah massa yang lain. Dinding depan yang agak rendah dan semi terbuka menampilkan irama gerak sholat yang rampak dengan takbir yang bersahutan. Lima kali sehari suaranya mengumandangkan azdan setiap menjelang waktu solat. Anak-anak tanpa diaba saling berebut untuk menjadi muadzin dan bergegas meninggalkan apapun yang sedang mereka kerjakan. Pun para orang tua juga hirau meninggalkan apapun kegiatannya untuk berjamaah dan memimpin anak-anak mereka tunaikan solat. Dan sesekali diberinya kesempatan remaja mereka yang mulai fasih melafadz sedikit al-Qur’an untuk menjadi imam dan merasai peran kepemimpinan yang akan dipikulnya kelak. Dari ketinggian atap langit tampak surau dan rumah-rumah keluarga Madura sebagai unit-unit yang padan dalam panduan sumbu kiblat.
Ketika fajar menyingsing, surau mulai meneriakkan ajakan subuh bersama. Itulah waktu pertama dimulainya hari hidup ke depan sebelum anak-anak mereka bergegas menuntut ilmu dan para orang tua mengais rahmat Allah. Ketika terik langit tergelincir dari puncaknya, dhuhur segera ditegakkan. Sesudahnya, sanak keluarga berkumpul untuk sekadar makan siang dalam keriuhan bersama. Lalu merekapun istirahat sejenak sampai cahaya matahari telah lepas dan bayangannya melebihi panjangnya benda, petanda ashar telah tiba. Sesudahnya riuh anak berlarian diantara pandangan kasih sanak keluarganya di tengah tanean lanjang yang bersinggungan dengan beranda rumah-rumah yang berjejer. Dan ketika langit merah telah usai ditimpa bulan yang masuk ke semburat langit seluruh keluarga dan berayat bergegas siap mengambil tempat untuk berebut shaf paling depan dalam barisan jemaah maghrib. Dan sesudahnya anak-anak mereka reriung belajar membaca al-Qur’an pada orang tua pemimpin mereka sampai saat Isya tiba. Di tengah temaram lentera riuh ayat demi ayat membubung ke langit sunyi tempat semayam para malaikat.
Demikianlah masa demi masa berlalu dengan penuh pembinaan dan hikmah. Surau telah mengambil peran yang begitu penting dalam hidup orang Madura. Keheningannya mengumandangkan nuansa Islami yang sempurna sejak hidup dijejak sampai ajal menjemput. Penghuni rumah dalam tanean lanjhang itu datang silih berganti bersamaan dengan usainya batas usia mereka. Dan surau itu masih saja setia menunaikan tugasnya… the truly Islamic semiotica…
Diposting kembali oleh Rudy Indrasakti

25 April 2010

Empat Racun Hati



Oleh Abdullah Shalih Al-Hadrami
Disunting kembali oleh Rudy Indrasakti

25 April 2010
Segala puji hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabat dan para pengikut yang setia sampai hari kiamat.


Allah berfirman,
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabnya. (Al-Isra': 36)

Rasulullah bersabda,
Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik, maka baik pulalah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak, maka rusak pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Abu Hurairah berkata,
Hati adalah raja anggota tubuh. Dan anggota tubuh adalah para prajuritnya. Apabila raja baik, maka baik pulalah para prajuritnya. Dan apabila raja busuk, maka busuk pulalah para prajuritnya.

Hati adalah raja.
Seluruh tubuh adalah pelaksana semua titahnya yang selalu siap untuk menerima arahannya. Aktivitasnya tidak dinilai benar, jika tidak diniatkan dan dimaksudkan oleh sang hati. Pada kemudian hari, hati akan ditanya tentang para prajuritnya. Sebab setiap pemimpin itu bertanggungjawab atas yang dipimpinnya. Maka, memperhatikan dan meluruskan hati merupakan perkara yang paling utama untuk diseriusi oleh orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah. Demikian pula, dengan mengkaji penyakit-penyakit hati dan metode mengobatinya, merupakan bentuk ibadah yang utama bagi ahli ibadah.

Hati adalah pusat ilmu dan ketaqwaan, cinta dan benci, keragu-raguan dan bencana. Dialah yang tahu tentang Allah, dan jalan menuju kepadaNya. Dan anggota tubuh ini tidak lain hanyalah mengikuti dan berkhidmat kepadanya.

Hati yang sehat adalah hati yang selamat. Hati yang selamat didefinisikan sebagai hati yang terbebas dari setiap syahwat, keinginan yang bertentangan dengan perintah Allah, dan dari setiap syubhat, ketidakjelasan yang menyeleweng dari kebenaran.

Maka, barangsiapa menginginkan keselamatan dan kehidupan bagi hatinya, hendaklah ia membersihkan hatinya dari pengaruh racun-racun itu. Kemudian menjaganya, jangan sampai ada racun lain yang menggrogotinya.
Adapun jika tanpa sengaja ia mengambil salah satunya, ia mesti bersegera untuk membuangnya dan menghapus pengaruhnya dengan cara bertaubat, beristighfar dan mengerjakan amal shalih yang dapat menghapus kesalahan.

Yang dimaksud dengan empat racun hati yaitu:
1. Banyak bicara
2. banyak memandang
3. banyak makan dan minum
4. banyak bergaul dengan sembarang orang

Keempat racun ini merupakan sumber yang paling banyak tersebar, dan paling
berbahaya bagi kehidupan hati.

1. Banyak Bicara

Lidah mempunyai pengaruh yang sangat besar. Keimanan dan kekafiran bisa tampak melalui lihad (syahadat). Barangsiapa melepaskan tali kendali lidahnya, maka syetanpun akan memperdayanya dari segala penjuru, sehingga menggiringnya menuju tepian jurang, kemudian menjatuhkannya sampai ke dasar.

Dari Mu'adz, dari Rasulullah bersabda,
Dan tiadalah yang menelungkupkan wajah atau batang hidung manusia ke dalam api neraka, melainkan karena ulah lidahnya.

Diantaranya firman Allah,
Tiadalah suatu perkataan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS Qaf: 18).

Dari Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi berkata,
aku bertanya, "Ya Rasulullah, apakah yang paling anda takutkan terhadap diri saya?" Beliau bersabda, "Ini." sambil memegang lidahnya.

Dari Uqbah bin Amir berkata, "Ya Rasulullah, apakah keselamatan itu?" Beliau bersabda, "Peliharalah lidahmu."

Beliau bersabda pula,
Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam. (HR. Bukhari dan Muslim)

Beliau juga berkata,
Wahai lidah, berkatalah yang baik, kamu akan beruntung. Dan Diamlah dari yang buruk, (maka) kamu akan selamat, sebelum kamu menyesal.

Dari Abu Darda' berkata,
Berlakulah adil terhadap dua telinga dari lidah. Dijadikan untuk anda dua telinga dan satu lidah, supaya anda lebih banyak mendengar daripada berbicara.

2. Banyak Memandang

Yang dimaksud dengan banyak memandang, yaitu melepaskan pandangan kepada sesuatu dengan sepenuh mata, dan memandang kepada yang tidak halal untuk dipandang.

Allah berfirman,
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya"; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutup kain kudung kedada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara
mereka, putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan Janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung. (QS An-Nur: 30 - 31)

1. Pandangan adalah anak panah beracun di antara anak panah Iblis Barangsiapa menundukkan pandangannya karena Allah, Dia akan memberikan kepadanya kenikmatan dan kedamaian dalam hatinya, yang ia rasakan sampai bertemu dengan-Nya.
2. Pandangan merupakan pintu masuk syetan. Sesungguhnya masuknya syetan lewat jalan ini melebihi kecepatan aliran udara keruang hampa. Syetan akan menjadikan wujud yang dipandang seakan-akan indah, menjadikannya sebagai berhala tautan hati.
3. Pandangan menyibukkan hati, menjadikannya lupa terhadap hal-hal yang bermanfaat baginya, dan menjadi penghalang antara keduanya. Akhirnya urusannya pun menjadi kacau. Dia menjadi selalu lalai dan mengakuihawa nafsunya.

Allah berfirman,
Dan janganlah kamu taat kepada orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari dzikir kepada Kami dan mengikuti hawa nafsunya serta urusannya kacau-balau. (QS. Al-Kahfi: 28)

Bila hati telah bersinar, maka seluruh kebaikan dari segala penjuru akan masuk ke dalamnya. Sebaliknya apabila hati telah gelap, maka berbagai keburukan dan bencana akan masuk ke dalamnya, dari segala penjuru.

3. Banyak Makan dan Minum
Nafsu perut adalah termasuk perusak yang amat besar. Nafsu ini pula, yang menyebabkan Adam dikeluarkan dari Surga. Dari nafsu perut pula, muncul nafsu kemaluan dan kecenderungan kepada harta benda. Yang akhirnya disusul dengan berbagai bencana yang banyak. Semua ini berasal dari kebiasaan memenuhi tuntutan perut.

Sedikit makan itu melembutkan hati, menguatkan daya pikir, serta melemahkan hawa nafsu dan sifat marah. Sedangkan banyak makan, akan mengakibatkan sebaliknya.

Allah berfirman,
Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS Al-A'raf: 31)

Barangsiapa memelihara perutnya, akan terpeliharalah diennya (agamanya). Dan barangsiapa mampu menguasai rasa laparnya, akan memiliki akhlak yang terpuji. Sesungguhnya, kemaksiatan kepada Allah itu jauh dari seorang yang lapar dan dekat dengan seorang yang kenyang.

4. Banyak Bergaul Dengan Sembarang Orang

Ini merupakan penyakit berbahaya yang mengakibatkan banyak keburukan. Ia dapat
menghilangkan nikmat dan menebarkan permusuhan. Ia juga menanamkan kedengkian yang dahsyat, serta mengakibatkan kerugian dunia dan akhirat.
Dalam bergaul, hendaknya kita mengklasifikasikan (membagi) manusia menjadi dua kelompok, yang baik dan buruk. Ketidakmampuan kita membedakan dua kelompok ini, dapat membawa bencana.

Allah berfirman,
Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur'an, ketika Al-Qur'an itu telah datang kepadaku." Dan adalah syetan itu tidak mau menolong manusia. (Al-Furqan: 27 - 29)

Allah berfirman pula,
Teman-teman akrab para hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa. (Az-Zukhruf: 67)

Rasulullah bersabda,
Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk, adalah seperti penjual minyak wangi dan peniup api (pandai besi), adakalanya memberi anda (minyak wangi), atau anda membeli darinya, atau anda mendapat bau wangi darinya. Adapun peniup api (pandai besi), adakalanya membakar pakaian anda, atau anda mendapatkan bau yang Kurang sedap darinya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Alangkah bahagianya, apabila kita diberi rezki oleh Allah berupa teman yang shalih. Teman yang selalu mengingatkan dan menasihati kita untuk tetap istiqamah, sehingga kita selamat dari api neraka dan masuk ke dalam surga. Itulah teman yang baik dan bermanfaat di dunia dan akhirat.

Semoga Allah senantiasa menyelamatkan hati kita dari segala racun dan kotorannya, sehingga kita selalu bersih dan bersinah sampai berjumpa denganNya. Amin, ya rabbal 'alamin.

Pustaka
[1] Al-Misbahul Munir Fi Tahdzib Tafsir Ibn Katsir, Jama'ah Minal Ulama', Isyraf Asy- Syaikh Shafiyyur Rahman Al-Mubarakafuri, Daar As-Salam, Riyadh.
[2] Tazkiyatun Nufus, Syaikh Ahmad Farid, Edisi revisi hanya memuat hadits-hadits. Cetakan tahun 1419H / 1998M, Daar Al-Aqidah Litturats, Iskandariyah.
[3] Tazkiyah An-Nafs, Syaikh Ahmad Farid, Edisi lama (belum direvisi), terjemahan Indonesia. PenterjemahL Imtihan Asy-Syafi'i, Pustaka Arafah.
[4] Jami' Al-Ulum Wal Hikam, Ibnu Rajab, tahqiq Syu'aib Al-Arnauth dan Ibrahim Bajis, Muassasah Ar-Risalah, Beirut.
[5] Al-Mukhtar Lil Hadits Fi Syahri Ramadhan, Majmu'ah Thalabatil Ilmi, Rabithah Alam Islami.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...