20 Januari 2010

PENGELOLAAN MASJID


Peran dan pentingnya masjid bagi umat 

Dalam pandangan Islam masjid merupakan pusat yang sangat strategis untuk membina masyarakat yang islami. Terbukti ketika Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam tiba di Madinah sewaktu beliau hijrah maka pertama kali proyek yang beliau kerjakan adalah membangun masjid. 

Dari masjid inilah terbentuk pasukan jihad yang amat besar dan tangguh dan di sinilah assabiqunal awwalun dari kaum Muhajirin dan Anshar dididik, demikian pula orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka jadilah masjid sebagai sumber pelita dan tempat memancarnya cahaya petunjuk yang terang benderang. 

Masjid juga berfungsi sebagai tempat perkumpulan, titik tolak, tempat beribadah, arena pendidikan, penggalangan jihad, halaqah ilmu juga majlis syura, pemutusan perkara dan pengaturan strategi.

Masjid ibarat ladang yang amat luas yang siap untuk digarap dengan ber-bagai aktivitas kegiatan, ia juga seperti sarang lebah yang tidak boleh kosong dari orang yang rukuk, sujud, berdzikir kepada Allah, membaca Al Qur'an, belajar dan mengajarkan ilmu. 

Imam masjid dan kedudukannya 

Imam masjid memiliki posisi yang tinggi ditengah-tengah masyarakat, ucapannya banyak didengar serta pendapatnya cenderung untuk diterima. Bagaimana seorang imam tidak memiliki posisi ini sedangkan masyarakat telah menjadikannya pemimpin dalam menjalankan syiar yang amat besar dari syiar-syiar Islam yaitu shalat. 

Berpijak dari posisinya yang strategis, baik dari sudut pandang agama maupun sosial maka seorang imam masjid hendaknya menghadapi ini semua dengan memberi porsi yang maksimal sesuai dengan lingkup masyarakatnya. Imam masjid adalah seorang saudara yang senantiasa menasehati, seorang ayah yang penuh kasih sayang sekaligus seorang anak yang berbakti. 

Beberapa saran untuk imam masjid 
Para fungsionaris masjid memiliki tugas yang amat besar sesuai dengan tuntutan syari'at Islam. Untuk membantu melancarkan tugas yang mulia ini ada beberapa saran penting yang diambil dari hasil ketetapan progran kerja para imam, muadzin dan pelayan masjid di Saudi Arabia, diantara point yang terpenting adalah: 


1. Menyampaikan pengarahan dan mauizhah

Dalam hal ini imam hendaknya memilih waktu yang pas bagi para jama'ahnya seperti setelah selesai shalat, atau dalam perkumpulan rutin mingguan, moment kekeluargaan dan kemasyarakatan. Dalam menyampaikan mauizhah ini perlu diperhatikan beberapa hal dibawah ini:       
o Hendaknya materi dipersiapkan terlebih dahulu dan disusun secara logis 
o Memilih materi yang sekiranya mengigit dan penting untuk diketahui umat 
o Memilih kalimat yang dapat menyentuh seluruh lapisan dan memperhatikan kondisi kejiwaan mereka. 
o Hendaknya ringkas dan memiliki sasaran yang jelas 
o Membuat tenggang waktu dan jangan berlebihan dalam menyampaikan nasihat dalam arti jangan terlalu panjang dan sering supaya tidak menimbulkan kejemuan dan rasa bosan. 
  
2. Mengadakan kajian-kajian

Sangat bagus jika para imam mengadakan kajian-kajian di masjid untuk memberikan penjelasan kepada para jamaah dan masyarakat terutama bagi kalangan pemuda. 
Sebaiknya imam masjid membuat halaqah khusus unruk membahas salah satu bidang materi baik itu aqidah, tafsir, hadits, fiqih, sirah atau akhlak, mungkin juga tentang pendidikan.
  
3. Pengajian umum dan seminar
  
o Sangat dianjurkan bagi imam masjid untuk mengadakan pengajian umum atau seminar dengan mengundang ulama dan tokoh yang mumpuni. 
o Menggalang kerjasama dangan kantor-kantor dan lembaga dakwah sekitar untuk penyelenggaraan pengajian ataupun seminar. 
o Sebaiknya imam masjid bersikap proaktif dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut jangan sekedar menunggu tawaran atau ajakan dari pihak luar. 
  
4. Kelompok hafalan Al Qur'an

Ini merupakan sarana taqarub kepada Allah yangsangat utama, maka selayaknya imam masjid mengadakan halaqah tahfidzil qur'an serta menen-tukan klasifikasinya, yaitu: 
o Kelompok khusus untuk anak-anak 
o Kelompok untuk usia dewasa 
o Kelompok khusus wanita

Sebaiknya dibentuk sebuah panitia yang mengurusi kegiatan ini yang fungsinya selain untuk membantu imam masjid juga untuk mengontrol jalannya kegiatan. 
  
5. Kunjungan berkala

Kunjungan seperti ini merupakan sebuah kesempatan yang sangat bagus untuk mendiskusikan berbagai masalah penting di masyarakat seperti: 

o Mendiskusikan putra-putri dan bagai-mana menyikapi kondisi mereka. 
o Membicarakan sebagian anggota masyarakat yang enggan shalat berjamaah dan                  menyepelekannya. 
o Mendiskusikan permasalahan-permasalahan penting yang ada di masyarakat. 
  
6. Memberi himbauan kepada masyarakat untuk berperan dalam kegiatan            sosial kemanusiaan. 
  
o Yaitu dengan memberikan penjelasan tentang pentingnya kegiatan tersebut dengan menyampaikan ayat-ayat atau hadits yang menganjurkan untuk berinfaq fisabilillah. 
o Diantara bentuk-bentuk kegiatan yang dapat dilakukan adalah: 
a. Kegiatan buka puasa bersama di bulan Ramadhan. 
b. Bantuan untuk para aktivis dan pejuang muslim diseluruh dunia. 
c. Kegiatan untuk membendung kristenisasi dan para misionaris. 
d. Pencetakan buku dan penyebaran kaset-kaset Islam. Dan lain-lain 



 
o Perlu bagi pengelola masjid untuk memperkenalkan Yayasan dan lembaga-lembaga kemanusiaan kepada masyarakat. 
o Diusahakan untuk membentuk sebuah panitia atau pengurus yang menangani berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan khususnya untuk kegiatan di masjid dan sekitarnya. 
o Menjalin hubungan dengan para donatur atau muhsinin agar bersedia menyalurkan sebagian hartanya untuk kegiatan tersebut. 
  
7. Memperhatikan keberadaan kaum wanita

Para wanita juga berhak memperoleh porsi yang memadai dalam hal pengajaran dan pendidikan. 
Untuk itu pengelola masjid khusus-nya para imam dianjurkan supaya melakukan hal-hal sebagai berikut: 
o Menyampaikan nasehat atau ceramah kepada kaum wanita pada bulan Ramadhan khususnya seusai shalat tarawih. 
o Sangat ditekankan untuk menyampai-kan materi-materi seputar hukum thaharah(bersuci), shalat, shiyam, pendididkan anak, hak-hak suami istri serta memperingatkan mereka dari berbagai bentuk kemungkaran yang banyak terjadi. 
o Mengundang ulama atau ustadz untuk menyampaikan pengarahan dan nasehat kepada para wanita. 
o Menyediakan tempat khusus bagi kaum wanita dimasjid dalam acara muhadharah/pengajian atau seminar. 


Saran-saran umum 


Untuk menggiatkan jama'ah masjid dan anggota masyarakat ada beberapa saran yang dapat dilakukan yaitu: 


1. Menyelenggarakan acara berbuka puasa bersama untuk seluruh jama'ah masjid dan masyarakat sekitar. 
2. Melontarkan ide i'tikaf di bulan Ramadhan sebagi tindak lanjut. 
3. Membuka perpustakaan umum di dalam masjid serta menyediakan ruang bacaan. 
4. Memperhatikan warga yang kesulitan dan sangat membutuhkan serta mengulurkan tangan untuk fakir miskin. 
5. Sebagai realisasinya diadakan dompet amal untuk menampung bantuan dari para donatur. 
6. Menganjurkan kepada masyara-kat agar tidak melakukan pemborosan dalam acara atau pesta yang mereka selenggarakan. Dan sebaiknya jika ada dana yang berlebihan disalurkan untuk kepentingan dakwah dan kemanusiaan. 
7. Memberikan hadiah setiap jangka waktu tertentu berupa kaset dan buku-buku islam yang bermanfaat. 
8. Menganjurkan jamaah masjid agar berperan dalam amar ma'ruf nahi mungkar. 
9. Menyediakan kotak saran dimasjid agar para jama'ah dapat menyampaikan usulan, pertanyaan ataupun konsultasi. 
10. Menyediakan papan informasi di masjid dengan memperhatikan penataan, penerbitan serta rutinitasnya. Hendaknya dibagi menjadi kolom-kolom beragam misalnya tentang fatwa, pendidikan, kajian serta ruang informasi umum. 
11. Dianjurkan bagi pengurus masjid untuk berperan dalam mem-bantu jamaah dalam mengatur waktu misalnya dengan membuatkan jadwal harian seorang mulim serta mensosialisasikannya. 
12. Menyelenggarakan berbagai lomba dan kuis untuk menggugah minat serta menggiatkan anak-anak dan remaja agar aktif menelaah dan meneliti berbagai persoalan. 
13. Jika memungkinkan dapat membuka biro bimbingan haji dan umrah. 


Disarikan dari kutaib "Risalatul Masjid", karya Manshur bin Abdul Aziz Al Khuraiji, Darul Ma'arij Ad Dauliyah Riyadh. (Dept. Ilmiah)



15 September 2009

Mengapa Doa Saya Selalu Dikabulkan

oleh Wuryanano

Allah berfirman di dalam Al-Qur’an, Surat Al-Qashash, ayat 77, “Dan carilah dengan rezeki yang diberikan Allah kepadamu, kebahagiaan di Akhirat. Dan jangan kamu lupakan bahagiamu (kemakmuran) di Dunia. Berbuat baiklah, sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat bencana di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat binasa.”

Di dalam kehidupan ini, kita tidak mungkin menjadi, berbuat, dan memiliki segalanya yang ada di dalam dunia kita yang besar dan indah ini. Anda perlu membuat suatu pilihan, Anda harus memilih, dan pilihan-pilihan yang Anda buat pada gilirannya akan menentukan seberapa sukses Anda di dalam delapan bidang penting kehidupan ini: kebahagiaan, kesehatan, kedamaian, kemakmuran, ketenteraman, persahabatan, keluarga, dan pengharapan. Semuanya bergantung pada Anda untuk memilih yang terbaik, dan merelakan yang baik.

Dalam kaitannya dengan sebuah pilihan hidup ini, pada umumnya manusia meminta pertimbangan kepada Sang Maha Kuasa, penguasa alam dan seisinya ini, dalam bentuk permohonan kepada Tuhan Allah, yang lebih sering disebut Doa itu. Setiap orang di dalam kehidupannya saya yakin pasti selalu berdoa, atau setidaknya pernah berdoa. Saya ingat ada firman Tuhan seperti ini: “Berdoalah kepadaKu, maka akan Aku kabulkan doamu”. Cuplikan ayat suci ini sudah menunjukkan pada kita, bahwa setiap doa atau permintaan manusia pasti akan dikabulkan Tuhan. Prinsipnya, Tuhan tidak pernah menolak doa ummatNya.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah; kenapa banyak orang merasa doa permintaannya ke Tuhan selalu gagal? Kok Tuhan tega menolak permintaan ummatNya? Apakah Tuhan ingkar janji? Sekarang, saya berani pastikan kepada Anda, Tuhan tidak pernah ingkar janji. Tuhan adalah Dzat yang Maha Suci, jadi Dia tidak akan mengingkari janjiNya. Setiap janji Tuhan pasti akan dipenuhiNya.

Jadi, kenapa doa kita tidak dikabulkan? Banyak orang berdoa minta kekayaan, tapi kemiskinan yang didapat. Minta kesehatan, tetapi malah mereka sakit-sakitan. Minta kesuksesan, tapi malah gagal terus menerus. Kenapa? Saya akan beritahukan kepada Anda, apa sebab suatu doa tidak terkabul. Penyebabnya sebenarnya adalah diri kita sendiri. Keyakinan diri kita sendiri terhadap isi doa dan keyakinan bahwa Tuhan akan membantu serta mengabulkan doa kita adalah faktor penentu terkabulnya permintaan keinginan kita.

Saya ingat seorang ustadz pernah mengatakan tentang firman Tuhan sebagai berikut: “Aku adalah seperti apa pun yang diprasangkakan hambaKu kepadaKu”. Jadi dari firman Tuhan tersebut, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Tuhan akan mengikuti saja apa yang manusia pikirkan mengenai Dia. Apapun prasangka manusia kepada Tuhan, Dia pasti mengikutinya. Kalau kita berpikir dengan keyakinan bahwa Tuhan pasti mengabulkan doa kita; terkabulah doa kita. Jika kita meragukan Tuhan nggak bakal mengabulkan doa kita; maka gagallah kita. “Jadilah, maka akan Jadilah itu”, begitu bunyi firman Ilahi di kitab Al Qur’an. Saya percaya benar akan hal itu. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan.

Doa merupakan kekuatan terbesar di dunia ini, yang tersedia bagi setiap orang dalam memecahkan berbagai masalahnya. Sekarang ini, banyak orang semakin menyadari pentingnya suatu doa; karena mereka sudah merasakan bahwa doa bisa meningkatkan rasa efektivitas diri. Doa semakin memperkuat mereka dalam segala hal yang menimpa kehidupan mereka. Doa adalah suatu energi dahsyat, yang bisa mengisi ulang energi kita, yang telah menyusut habis. Dengan doa, Anda akan merasakan aliran energi masuk ke seluruh bagian tubuh Anda. Perbanyaklah doa Anda di setiap harinya, maka Anda tidak akan pernah merasakan kekurangan energi. Doa memberi Anda semangat juang, menyegarkan diri Anda.

Kekuatan doa bisa membantu Anda menormalkan kehidupan Anda, meniadakan kelemahan atau kemunduran Anda, menyehatkan fisik Anda dan membentuk sikap Anda menjadi lebih baik. Sangat penting untuk Anda pahami, bahwa Anda berurusan dengan kekuatan maha dahsyat, kekuatan paling hebat di dunia, saat Anda berdoa. Kalau Anda dengan penuh keyakinan meminta sesuatu kepada Yang Maha Dahsyat, maka Dia pasti mengabulkan doa Anda. Sebagaimana cuplikan firman Allah dalam Hadits, “Mintalah kepada-Ku, maka pasti Aku beri”.

Itulah janji Allah, Dia akan memberikan apapun yang diminta manusia. Berimanlah kepada Tuhan Allah, maka Dia pasti membantu Anda. Berdoalah selalu kepada Allah, niscaya Anda akan memperoleh apapun yang Anda minta. Tetapi yang perlu digarisbawahi di sini adalah, kenapa masih banyak orang yang memanjatkan doa kepada Tuhan, dan mereka merasa doanya tidak dikabulkan? Nah, buku saya ini mencoba untuk berbagi pengalaman dan wawasan pengetahuan, tentang bagaimana sebenarnya cara Tuhan dalam mengabulkan do’a manusia. Buku ini tidak dimaksudkan untuk mempengaruhi dan membujuk Anda melalui serangkaian contoh dan pemikiran. Apa pun pemikiran yang muncul pada saat Anda membaca buku ini, hendaknya Anda renungkan demi efektivitas diri Anda sendiri.

Sebagai Penulisnya, tentu saya tahu, bahwa bahasan di buku ini lebih berdasarkan pengetahuan dan pengalaman saya selama menjalani kehidupan di dunia ini; sehingga masih sangat terbatas sifatnya berdasarkan pandangan saya. Luangkanlah waktu sejenak untuk merenungkan ide dan pemikiran di dalam buku ini. Jika Anda merasa tidak cocok dengan salah satu point nya… ya, abaikan saja. Saya menulisnya lebih disebabkan oleh keprihatinan terhadap sesama yang merasa tidak diperhatikan oleh Tuhan, sebab setiap do’anya tidak atau belum pernah terwujud secara nyata sebagaimana keinginannya di dalam doa tersebut. Bahkan banyak di antara mereka ini cenderung menyalahkan Tuhan Allah, karena mereka menganggap Dia tidak mau mengabulkan doa keinginannya itu. Subhanallah, Maha Suci Allah dengan segala firman-Nya.

Harapan saya, semoga buku “MENGAPA DOA SAYA SELALU DIKABULKAN” ini bisa turut memberikan pencerahan pikiran dan ketenangan jiwa pada diri setiap orang yang membacanya, dan bisa mencoba menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Lebih berharap lagi, semoga kita tidak pernah lagi menyalahkan Tuhan Allah, jika doa yang kita panjatkan dan kita mohonkan kepada-Nya belum terwujud secara nyata sebagaimana keinginan kita. Semoga kita semua bisa menjalani kehidupan di dunia ini dengan Kesuksesan dan Kebahagiaan Luar Biasa Prima. Amin.

Salam LUAR BIASA PRIMA,

WURYANANO

Penulis

01 September 2009

KEUTAMAAN DAN HUKUM I'TIKAF

Dirilis kembali oleh Rudy Indrasakti

Segala pujian dan sanjungan hanya bagi Allah Rabb para pendahulu dan seluruh penghuni bumi hingga akhir zaman. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada junjungan dan teladan kita Nabi Agung Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa sallam seorang hamba yang diutus Allah sebagai rahmat bagi alam semesta, demikian pula semoga tercurah kepada seluruh keluarga dan para shahabatnya. 


Dengan risalah singkat ini penulis mengharapkan agar dapat memberi manfaat, secara khusus bagi pribadi penulis dan umumnya kepada kaum muslimin. Mudah-mudahan Allah Subhaanahu wa Ta'ala menjadikan seluruh amalan kita pemberat timbangan kebajikan kelak nanti di akherat, Amin ya Rabbal 'Alamin. 

Makna i'tikaf secara bahasa 

Menurut bahasa i'tikaf punya arti menetapi sesuatu dan menahan diri agar senantiasa tetap berada padanya, baik hal itu berupa kebajikan ataupun keburukan. Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman: Al A'raf ayat 138: 

"Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani Israil berkata: "Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah ilah (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa ilah (berhala)". Musa menjawab: "Sesung-guhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Ilah)". (QS.7:138) 

Sedangkan menurut syara' i'tikaf berarti menetapnya seorang muslim didalam masjid untuk melaksanakan ketaatan dan ibadah kepada Allah Ta'ala. 

Hukum i'tikaf 

Para ulama sepakat bahwa i'tikaf hukumnya sunnah, sebab Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam senantiasa melakukannya tiap tahun untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memohon pahalaNya. Terutama pada hari-hari di bulan Ramadhan dan lebih khusus ketika memasuki sepuluh akhir dari bulan suci itu. Demikian tuntunan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam. 

Yang wajib beri'tikaf 

Sebagaimana dimaklumi bahwa i'tikaf hukumnya sunnah, kecuali jika seseorang bernadzar untuk melakukannya, maka wajib baginya untuk menunaikan nadzar tersebut. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits Umar bin Khaththab Radhiallaahu 'anhu yang diriwayatkan imam Al Bukhari dan Muslim. 

Di sebutkan bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan i'tikaf semenjak beliau sampai di Madinah hingga akhir hayat. 

Tempat i'tikaf 

I'tikaf tempatnya di setiap masjid yang di dalamnya dilaksanakan shalat berjama'ah kaum laki-laki, firman Allah Ta'ala: 

"Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangangAllah, maka janganlah kamu mendekatinya" (Al-Baqarah: 187) 

Orang yang beri'tikaf pada hari Jum'at disunnahkan untuk beri'tikaf di masjid yang di gunakan untuk shalat Jum'at. Tetapi jika ia beritikaf di masjid yang hanya untuk shalat jama'ah lima waktu saja maka hendaknya ia keluar hanya sekedar untuk shalat jum'at (jika telah tiba waktunya), kemudian kembali lagi ke tempat i'tikafnya semula. 

Waktu i'tikaf 

I'tikaf di sunnahkan kapan saja di sembarang waktu, maka diperbolehkan bagi setiap muslim untuk memilih waktu kapan ia memulai i'tikaf dan kapan mengakhirinya. Namun yang paling utama adalah i'tikaf di bulan suci Ramadhan, khususnya sepuluh hari terakhir. Inilah waktu i'tikaf yang terbaik sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih: 

"Bahwasanya Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam selalu beri'tikaf pada sepuluh akhir bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkannya. Kemudian para istri beliau beri'tikaf sepeninggal beliau" (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah Radhiallaahu 'anhua) 

Sunnah-sunnah bagi orang yang sedang i'tikaf 

Di sunnahkan bagi para mu'takif supaya memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya untuk berdzikir, membaca Al Qur'an, mengerjakan shalat sunnah (terkecuali pada waktu-waktu terlarang), serta memperbanyak tafakur tentang keadaannya yang telah lalu, hari ini dan masa mendatang. Juga banyak-banyak merenungkan tentang hakekat hidup di dunia ini dan kehidupan akhirat kelak. 

Hal-hal yang harus dihindari mu'takif 

Orang yang sedang i'tikaf dianjurkan untuk menghindari perkara-perkara yang tidak bermanfaat seperti banyak bercanda, mengobrol yang tidak berguna sehingga mengganggu konsentrasi i'tikafnya. Karena i'tikaf bertujuan mendapatkan keutamaan bukan malah menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak di sunnahkan. 

Ada sebagian orang yang beri'tikaf namun dengan meninggalkan tugas dan kewajibannya. Hal ini tidak dapat di benarkan karena sungguh tidak proporsional seseorang meninggalkan kewajiban untuk sesuatu yang sunnah. Oleh karena itu orang yang i'tikaf hendaknya ia menghentikan i'tikafnya jika memiliki tanggungan atau kewajiban yang harus dikerjakan. 

Hal-hal yang mebolehkan mu'takif keluar dari masjid 

Seorang mu'takif diperbolehkan meninggalkan tempat i'tikafnya jika memang ada hal-hal yang sangat mendesak. Diantaranya; buang hajat yaitu keluar ke WC untuk buang air, atau untuk mandi, keluar untuk makan dan minum jika tidak ada yang mengantarkan makanan kepadanya, dan pergi untuk berobat jika sakit. Demikian pula untuk keperluan syar'i seperti; shalat Jum'at jika tempat ia beri'tikaf tidak digunakan untuk shalat Jum'at, menjadi saksi atas suatu perkara dan juga boleh membantu keluarganya yang sakit jika memang mengharuskan untuk dibantu. Juga keperluan-keperluan semisalnya yang memang termasuk kategori dharuri (harus). 

Larangan-larangan dalam i'tikaf 

Orang yang sedang bei'tikaf tidak diperbolehkan keluar dari masjid hanya untuk keperluan sepele dan tidak penting, artinya tidak bisa dikategorikan sebagai keperluan syar'i. Jika ia memaksa keluar untuk hal-hal yang tidak perlu tersebut maka i'tikafnya batal. Selain itu ia juga dilarang melakukan segala perbuatan haram seperti ghibah (menggunjing), tajassus (mencari-cari kesalahan orang), membaca dan memandang hal-hal yang haram. Pendeknya semua perkara haram diluar i'tikaf maka pada saat i'tikaf lebih ditekankan lagi keharamannya. Mu'takif juga di larang untuk menggauli istrinya, karena hal itu membatalkan i'tikafnya. 

Menentukan syarat dalam i'tikaf 

Seorang mu'takif diperbolehkan menentukan syarat sebelum melakukan i'tikaf untuk melakukan sesuatu yang mubah. Misalnya saja ia menetapkan syarat agar makan minum harus dirumahnya, hal ini tidak apa-apa. Lain halnya jika ia pulang dengan tujuan menggauli istrinya, keluar masjid agar bisa santai atau mengurusi dagangannya maka i'tikafnya menjadi batal. Karena semua itu bertentangan dengan makna dan pengertian i'tikaf itu sendiri. 

Hikmah dan Manfaat i'tikaf 

I'tikaf memiliki hikmah yang sangat besar yakni menghidupkan sunnah Rasul n dan menghidupkan hati dengan selalu melaksanakan ketaatan dan ibadah kepada Allah Ta'ala. 

Sedangkan manfaat i'tikaf diantaranya adalah sebagai berikut: 

Untuk merenungi masa lalu dan memikirkan hal-hal yang akan dilakukan di hari esok. 
Mendatangkan ketenangan, keten-traman dan cahaya yang menerangi hati yang penuh dosa. 
Mendatangkan berbagai macam kebaikan dari Allah Subhaanahu wa Ta'ala . Amalan-amalan kita akan diangkat dengan rahmat dan kasih sayangNya 
Orang yang beri'tikaf pada sepuluh akhir bulan Ramadhan akan terbebas dari dosa-dosa karena pada hari-hari itu salah satunya bertepatan dengan lailatul qadar. 
Mudah-mudahan Allah memberikan taufik dan inayahNya kepada kita agar dapat menjalankan i'tikaf sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam , terutama di bulan Ramadhan yang mulia ini. 

Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad, segenap keluarga dan shahabatnya, Amiin.

(Disampaikan oleh yang mulia Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman Al-Jibrin.)Sumber: Buletin Dakwah An Nur edisi Ramadhan 1416 H. (Dept. Ilmiah)



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...