23 April 2011

Rezeki

Rezeki Tak Akan Kemana.

oleh Anshari Taslim pada 18 April 2011 jam 14:33
            Ungkapan ini sering terdengar di telinga, dan memang begitulah adanya, rezeki, jodoh, ajal semua sudah ditentukan Tuhan, tak ada yang bisa mengubah semua yang telah ditentukan, tapi manusia diwajibkan berusaha untuk menggapai tujuan.

            Ada satu clue yang diberikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang rezeki seseorang, bahwa rezeki yang telah ditetapkan itu pasti ditunaikan oleh Allah, dan tak akan terpisah sukma dari raga sebelum tertunai apa yang seharusnya menjadi milik kita. Baik dia digapai dengan cara yang halal maupun haram. Sama saja, kalau sudah menjadi milik kita berarti memang itulah takdir yang telah ditetapkan sang Khaliq.
            Dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لا تستبطئوا الرزق، فإنه لم يكن عبد ليموت حتى يبلغ آخر رزق هو له، فأجملوا في الطلب: أخذ الحلال وترك الحرام
”Jangan kalian merasa rezeki itu terlalu lama datangnya, karena tidak akan mati seorang hamba sampai rezeki terakhir (yang telah ditetapkan Allah kepadanya) akan datang kepadanya. Maka perindahlah cara dalam mencari rezeki itu, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram.”

(HR. Al-Hakim, Al-Baihaqi, Al-Qudha’i, Ath-Thabarani dalam Al-Ausath dan lain-lain. Dishahih oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah 6/209-211, no. 2607.)

            Makanya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan kepada umatnya untuk selalu berusaha mencari rezeki dengan cara yang diridhai Ilahi, karena kalau memang sudah rezeki pasti kan diberi. Sehingga kalau mencarinya dengan cara yang haram tentulah kita akan merugi. Mengapa, sebab dengan cara halalpun rezeki itu akan datang sebelum kita mati.

            Gambarannya, Allah menetapkan ini rezeki kita, ada dua jalan untuk mengambilnya, ada cara yang haram dengan konsekuensi neraka, ada cara yang halal dengan konsekuensi surga. Silahkah mau pilih cara yang mana.

            Akhirnya, di akhirat nanti para koruptor, pencuri, pemakan riba, pelacur, penjual narkoba dan lain-lain akan sangat menyesal. Mereka bisa saja lepas dari jeratan hukum di dunia tapi di akhirat bakal merasakan siksaan yang pedih di neraka, markas para angkara murka. Penyesalan itu bukan semata karena masuk nerakanya, melainkan demi melihat kenyataan bahwa andai mereka mau bersabar menempuh hanya jalan yang halal dalam mencari rezeki, toh mereka juga akan mendapatkan harta yang sama persis dengan yang mereka dapatkan dengan cara haram.

Tapi apa lacur, semua telah terlanjur, nasi sudah menjadi bubur, akhirat mereka sudah hancur, mereka dapatkan harta itu dengan cara yang ngawur, tak sabar menunggu di akhir umur, sehingga harta yang seharusnya membuat makmur malah menenggelamkan mereka ke neraka yang dalamnya tak terukur.

            Jadi, perindahlah cara mencari rezeki dengan hanya menempuh yang halal dan meninggalkan yang haram, karena kalau dia memang rezeki kita, maka dia tak akan kemana.

Anshari Taslim.
Bekasi, 18 April 2011.

24 Maret 2011

Wanita Ahli Surga & Ciri-Cirinya

Setiap insan tentunya mendambakan kenikmatan yang paling tinggi dan abadi. Kenikmatan itu adalah Surga. Di dalamnya terdapat bejana-bejana dari emas dan perak, istana yang megah dengan dihiasi beragam permata, dan berbagai macam kenikmatan lainnya yang tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terbetik di hati. 

Dalam Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menggambarkan kenikmatan-kenikmatan Surga. Di antaranya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

ciri-ciri wanita ahli surga

Ciri-ciri Wanita Ahli Surga -Credit Image by. Haribasuki
“(Apakah) perumpamaan (penghuni) Surga yang dijanjikan kepada orang-orang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?” (QS. Muhammad : 15)

“Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk Surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam Surga kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda dengan membawa gelas, cerek, dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.” (QS. Al Waqiah : 10-21)

Di samping mendapatkan kenikmatan-kenikmatan tersebut, orang-orang yang beriman kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala kelak akan mendapatkan pendamping (istri) dari bidadari-bidadari Surga nan rupawan yang banyak dikisahkan dalam ayat-ayat Al Qur’an yang mulia, di antaranya :
“Dan (di dalam Surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan baik.” (QS. Al Waqiah : 22-23)

“Dan di dalam Surga-Surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan, menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni Surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (QS. Ar Rahman : 56)

“Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (QS. Ar Rahman : 58)

“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waqiah : 35-37).

[ AbuAfif ]

11 Maret 2011

Kehebatan Seorang Ibu


oleh RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF pada 09 Maret 2011 jam 20:18
♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Ia rela memberikan cinta kasihnya kepada orang yang dicintai,
memberikan tubuh dan hatinya untuk suami tercinta,
memberikan rahimnya untuk menampung sebuah kehidupan baru,
Ia rela mengorbankan nyawanya untuk melahirkan,
Mengorbankan semua waktu dan tenaganya untuk merawat anaknya,
tidak mengeluh saat membersihkan popok anaknya tanpa rasa jijik sekalipun,
tidak pernah mengatakan untung rugi untuk anaknya tercinta…
walau derita harus ditanggungnya karena perlakuan suaminya,
Ia tetap tersenyum dan tegar melewati hidupnya….
walau pun akhirnya suaminya meninggalkannya…

Ia tidak pernah menyesali semuanya…
Ia dengan sekuat tenaga membesarkan anaknya…
Memberi nafkah bagi anak-anaknya…
tak sekalipun terpikir untuk kembali menikah…
Tetap menjadi ibu dan ayah bagi anak-anaknya…
Tiada sedikitpun berkata tentang kesepiannya…
tiada sedikit pun mengeluhkan beratnya kehidupan…
Bekerja tanpa lelah, hanya demi anak-anakanya tercinta…
memberikan yang terbaik untuk anaknya makan dahulu…
dan menyisakan yang jelek bagi dirinya sendiri…
Dengan tangan-tangannya yang telah letih…
tetapi bersemangat memberikan kehangatan bagi anaknya…
suaranya yang merdu melantunkan kidung nyanyian yang indah,
menemani tidur anak-anaknya.

Kini aku telah dewasa,
ibuku masih tetap tegar seperti biasanya,
seorang diri tanpa suami disisinya,
menjalani hidup dengan bersyukur dan terus bersyukur,
dimatanya tetap anak-anaknya lah tumpuan hatinya,
dan di mata anak-anak, Ibulah pahlawan bagi kami…
cinta ibu yang tulus pada anaknya tak pernah padam…..
walau kerut diwajah telah tidak lagi sedikit,
tangan-tangannya yang lembut, kini telah penuh keriput,
tetapi masih memberikan kehangatan yang sama,
tetap bersahaja sampai akhir hayatnya.


Ditengah sakitnya yang parah sebelum pergi untuk selama-lamanya, Ia memberikan pesan bagi kami:

“Jangan kalian benci ayah kalian sendiri, wahai anak-anakku tercinta!”
“karena tanpanya maka kalian tidak akan pernah lahir di dunia”
“Ia lebih memilih hidupnya sendiri… tetapi bagaimanapun Ia adalah orang yang paling ku sayangi di dunia ini, dan Ia adalah ayahmu sendiri”
“Bila suatu saat Ia kembali, mohon katakan aku tidak pernah sedikitpun membencinya, rawatlah bila Ia sakit”
“Maka Ibu akan benar-benar bahagia dan selalu memberikan restu untuk kalian semua….”


Kisah renungan ini fiktif adanya,
tetapi mungkin di dunia ini ada kejadian yang persis sama dengan cerita ini.
Anda dapat melihat dan merenung, dari posisi mana anda berada.
tidak perlu di bahas panjang lebar, tetapi dapat diselami untuk di jadikan suatu pelajaran…..
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...