16 Februari 2011

MENCINTAI ISTRI

 ~~~ BAGAIMANA CARAMU MENCINTAI ISTRI KETIKA ENGKAU MENCINTAI ALLAH DIATAS SEGALANYA ~~~

Bismillahirrahmaanirrahiim..
Assalamulaikum Warahmatullahi wa barakatuh

Ingatkah kita kisah yang diriwayatkan oleh Aisyah Ra. ketika melalui malam dengan Rasulullah SAW, bersisian, bersentuhan, "...kulitku dengan kulitnya.." istilah Aisyah. Lantas kemudian Rasulullah hendak melakukan qiyamullail?

Sungguh mulia apa yang dicontohkan Rasulullah dalam hadits tersebut, betapa beliau mengajarkan kita untuk mencintai Allah diatas segalanya dengan cara yang indah, tanpa harus mengecilkan (membuat terasa kecil) kecintaan kepada istri yang notabene harus menjadi yang paling dicintai setelah Allah dan RasulNya.

"...Yaa Aisyah, bolehkah aku menyembah Tuhanku...?"
kira-kira beginilah ucapan Rasulullah meminta izin kepada Aisyah untuk qiyamullail disaat mereka berdua tengah menikmati kebersamaan. Padahal sebenarnya Rasulullah tidak perlu meminta izin sedemikian rupa dengan menanyakan kepada istrinya apakah dia boleh meninggalkan istrinya sejenak untuk sholat malam. Bukankah Cinta Kepada Allah harus diatas cinta kepada istri?

Tapi, lihat betapa indahnya Rasulullah bersikap kepada istrinya. Lihatlah betapa Rasulullah menunjukkan kecintaannya kepada Rabbnya lebih tinggi dari kecintaannya kepada istrinya dengan TANPA harus menyakiti perasaan istrinya sedikitpun. Dengan tanpa membuat istrinya kecewa sedikitpun.

Padahal, bilapun Rasulullah tidak membahasakannya dengan cara meminta izin kepada Aisyah, misalnya dengan langsung bangkit untuk sholat tanpa berkata apapun kepada istrinya terlebih dahulu, mungkin Aisyah tidak akan keberatan atau kecewa meski saat itu mereka tengah merasa nyaman dengan kebersamaan yang begitu erat.

"...wahai suamiku, sesungguhnya aku suka berdekatan denganmu, tapi aku juga suka melihatmu menyembah Tuhanmu..." begitulah kira-kira jawaban Aisyah, dengan penuh keridhoan dan tanpa menyiratkan kekecewaan sedikitpun ketika suaminya ingin mendahulukan kecintaannya kepada Allah (dalam hal ini qiyamullail) ketimbang kecintaan kepadanya. Inilah manajemen cinta yang seharusnya).

_______________________________________


Apakah yang bisa kita pelajari dari hadits ini?

Bila engkau adalah kepala keluarga, tidak bisakah engkau mencari jalan keluar yang lebih indah untuk dapat mendahulukan kecintaanmu kepada Allah dengan cara yang sama sekali menghindari akibat-akibat tersakitinya perasaan istrimu, atau timbulnya kekecewaan dalam hatinya, walau pada dasarnya dia ridho bila engkau mendahulukan kecintaan kepada Tuhanmu?

Ketika engkau ingin menyantuni anak yatim misalnya, atau menyantuni salah satu dari saudaram-saudaramu.
__________________________________

Bila dia adalah istrimu, insyaAllah dia akan sangat senang ketika engkau ingin menyantuni anak yatim. Karena dia mengerti itu adalah bukti kecintaanmu kepada Allah SWT.
Tapi kira-kira bagaimana JALAN yang akan engkau tempuh, atau CARA yang akan engkau gunakan agar dengannya engkau tidak perlu membuat dia merasa tidak ridho dengan CARA tersebut atau bahkan tersakiti perasaannya?

Haruskah engkau mengorbankan apa saja termasuk mengorbankan perasaan istrimu? Tidakkah engkau seharusnya mencintai dia lebih dari engkau mencintai orang lain? Bukankah Rasulullah mengajarkanmu bagaimana cara mencintai istrimu ketika engkau mencintai Allah diatas segalanya?

Haruskah engkau menunjukkan kepada istrimu bahwa (diluar konteks kecintaan kepada Allah) engkau lebih mencintai orang lain ketimbang istrimu?

Tidakkah kita tahu bahwa haram bagi seorang suami menyakiti istrinya secara fisik maupun secara psikologis?

_______________________________

Padahal Rasulullah mencontohkan cara yang begitu mulia ketika mendahulukan kecintaan kepada Allah ketimbang kepada istri.

Pilihlah!
Sekali lagi, pilihlah cara yang lebih ma'ruf dan lebih membuat istrimu ridho.
InsyaAllah dia tidak melarangmu untuk mendekat kepada Tuhanmu dengan menyantuni anak yatim. InsyaAllah dia sangat suka melihatmu mencintai keluargamu. Tapi dia tidak ingin engkau memilih cara yang tidak ahsan, tidak baik. Dan mungkin sikapmu telah membuatnya tersakiti. Mudah--mudahan dengannya engkau dan istrimu akan beroleh keridhoan Allah yang lebih sempurna. Allahumma Aamiin

Bila dia adalah istrimu, apakah yang akan engkau lakukan sekarang?

Wallahu A'llam
Semoga bermanfaat

Dishare dari : AL UKHUWAH WAL ISHLAH 
                      Catatan Facebook :   Achmad Gozali 

15 Februari 2011

Maulid Nabi Muhammad SAW


HIKMAH MAULID NABI MUHAMMAD SAW


Hari ini Selasa 15 Februari 2011 bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1432 H. ditetapkan sebagai Hari Libur Nasional. Hari Kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW.

Seperti tahun-tahun sebelumnya Perayaan Maulid berlangsung di bebarapa tempat, ada yang berlangsung sangat meriah namun ada pula yang berlangsung sederhana.

Perayaan Maulid dibeberapa daerah sudah menjadi tradisi, bahkan ada yang mengarah ke praktik syirik dengan mengadakan sesajian, berkurban untuk alam, laut misalkan, pemubadziran makanan atau harta, ikhtilath atau campur baur laki-laki dan perempuan, praktek yang mengancam jiwa dengan berdesak-desakan atau rebutan makanan, dan lainnya yang bertentangan dengan syari’at.

Dibalik semua perayaan yang berlangsung tersebut ada hal yang paling penting kita maknai, agar perayaan itu bukan sekedar seremonial belaka.

Peringatan maulid itu dalam rangka mengingat kembali sejarah kehidupan Rasulullah saw., mengingat kepribadian beliau yang agung, mengingat misinya yang universal dan abadi, misi yang Allah swt. tegaskan sebagai rahmatan lil’alamin.

Syaikh Dr. Yusuf Al Qaradhawi, Ketua Persatuan Ulama Internasional, mengungkapkan dalam situs beliau:“Ketika kita berbicara tentang peristiwa maulid ini, kita sedang mengingatkan umat akan nikmat pemberian yang sangat besar, nikmat keberlangsungan risalah, nikmat kelanjutan kenabian. Dan berbicara atau membicarakan nikmat sangatlah dianjurkan oleh syariat dan sangat dibutuhkan.”

Kenyataan saat ini telah membuktikan, bahwa disebabkan belum bersungguh-sungguhnya kita dalam meneladani Rasulullah SAW dalam mengarungi perjuangan hidup, maka kehidupan kaum muslimin saat ini cenderung terperosok menjadi ummat terbelakang, dibandingkan dengan ummat-ummat lain di hampir semua bidang kehidupan.

Oleh karena itu, jika kondisi kehidupan kita ingin berubah, maka yang harus kita lakukan adalah mau dan berani merubah kebiasaan hidup kita ini.
Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah segala sesuatu yang ada pada diri mereka sendiri” (QS.23. Ar-Ra’du : 11).

Imam Ibnu ‘Atho’illah dalam kitab Al-Hikam menyatakan :“Bagaimana mungkin keadaanmu akan berubah menjadi luar biasa, sedangkan kamu belum mau merubah kebiasaan-kebiasaaan hidupmu”.

Kebiasaan mengabaikan teladan Rasulullah SAW dalam kehidupan kita sehari-hari ternyata membawa kita kepada kemunduran derajat hidup, maka jika ingin berubah menjadi ummat yang maju dan bermartabat, kita harus merubah kebiasaan kita.

Kita harus tinggalkan sikap menyepelekan dan mengabaikan uswahtul hasanah Rasulullah SAW. Kita harus bersungguh-sungguh dan lebih bersungguh-sungguh lagi dalam mengenal dan mengikuti teladan Rosulullah SAW dalam hidup ini.

Kesungguhan kita dalam mengikuti teladan Rasulullah SAW secara utuh dalam mengarungi perjuangan hidup ini adalah kunci menuju kehidupan ummat yang lebih maju dan bertartabat di masa yang akan datang.

Imam Ibnu Atho’illah menyatakan : “Janganlah kamu membanggakan warid yang belum kamu ketahui buahnya. Sesungguhnya yang dimaksudkan dengan adanya awan itu bukanlah hujan. Sesungguhnya yang dimaksudkan dengan adanya awan adalah wujudnya buah-buah pepohonan”.

Al-Hamdulillah jika kita dapat menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan meriah. Namun hendaknya jangan terlalu bangga dahulu. Sebab terselenggaranya acara itu baru ibarat awan. Meriahnya suasana baru laksana hujan. Bagaimana dengan buahnya ?. Sudah wujudkah ?.
Buahnya adalah “Mutiara hikmah dan perubahan”. Perubahan menjadi lebih baik. Lebih utuh dan lebih bersungguh-sungguh dalam meneladani Rosulullah SAW dalam seluruh sisi kehidupan kita. Kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan dunia.

Rasullah SAW adalah rahmat bagi semesta alam, kebaikan dan keberkahannya tidak hanya didapatkan oleh orang-orang yang semasanya dan tidak pula berakhir dengan wafatnya.

Kepada Nabi Muhammad SAW, Allah SWT berfirman, " dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) kententraman jiwa bagi mereka. Allah Maha mendengar, maha mengetahui." (Qs. At-Taubah: 103).

Allahumma inni atawajjahu ilaika binabiyyika nabiyyirrahmati Muhammadin shallallahu `alaihi wa alihi. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu dengan (perantaraan) Nabi-Mu, nabi pembawa rahmat, Nabi Muhammad, shalawat atasnya dan atas keluarganya.

Wallaahu ‘a’lam bisshowaab.

Sumber : Fatamorgana
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...