11 Agustus 2009

MEMBANGUN KEKUATAN EKONOMI BERBASIS MASJID

Umumnya dilingkungan masjid disekitar kita saat ini adalah melulu untuk kegiatan yang bersifat ritual ceremony (ibadah mahdloh) saja. Padahal masjid memiliki fungsi yang lebih. Di Iran pada dekade 80-an masjid disana berperan sebagai pusat ekonomi, kesehatan, dan juga politik. Jika di Iran bisa mengapa kita tidak! Negara kita adalah tercatat sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia, tentu bangunan masjid juga banyak.

Masjid sabiilus Salam, Nginden Surabaya misalnya patut dijadikan contoh, masjid yang terletak di area perumahan tersebut meraup pendapatan hingga ratusan juta rupiah dengan menyewakan menaranya kepada pihak telepon seluler sebagai pemancar (BTS). 

Sebagaimana telah diketahui bersama, masjid adalah pusat ibadah umat islam. Jika kita menilik pada shirah Rasulallah SAW, maka kita akan menemukan fakta bahwa masjid memiliki peran yang sangat vital dan signifikan dalam pengembangan dakwah islam. Rusulullah menjadikan masjid sebagai sentra utama seluruh aktifitas keumatan, apakah itu dalam aspek tarbiyah (pembinaan) para sahabat, pembentukan karakter para sahabat sehingga mereka memiliki keimanan dan ketakwaan yang sangat kokoh kepada Allah SWT, maupun aspek-aspek lainnya termasuk politik, strategi perang, hingga pada bidang ekonomi, hukum, sosial dan budaya. 

Pendeknya, masjid menjadi pusat utama ibadah umat islam, dari mulai ibadah mahdlah yang bersifat ritual hingga ibadah muamalah yang bersifat sosial.
Jika kita kembali kepada perjalanan dakwah Rosul bersama para sahabatnya, maka kita akan menemukan kenyataan bahwa kegiatan ekonomi mendapat perhatian tersendiri dari Rosulullah Muhammad SAW.


MEMANFAATKAN SEGALA POTENSI

Sebagai bukti kecil adalah dekatnya lokasi pasar dengan masjid, sehingga tidaklah mengherankan jika disekitar lokasi masjidil haram dan masjid Nabawi ditemukan pasar, yang hingga sekarang keberadaannya masih tetap terpelihara.

Bahkan jemaah haji kita pada musim haji sangat dikenal dengan kebiasaaannya , yaitu setelah melakukan tawaf mengelilingi ka’bah, mereka melakukan ‘towaf ‘ dipasar seng (istilaf bagi pasar disekitar lokasi Masjidil Haram), untuk membeli berbagai macam cindera mata yang akan dibawa ketanah air. Ini membuktikan bahwa ajaran islam sangat memberikan perhatian pada upaya untuk mengembangkan perekonomian umat.

Hal ini memberikan peluang kepada kita untuk memikirkan upaya untuk membangun kekuatan ekonomi umat dengan berbasis masjid. Tentu saja maksud disini adalah bukan untuk menjadikan masjid sebagai “balai perdagangan”, karena hal tersebut memang dilarang oleh Rosulullah SAW, sebagaimana dinyatakan dalam sabdanya ”apabila kamu melihat orang menjual atau membeli didalam masjid, maka katakanlah kepadanya : mudah-mudahan Allah tidak untungkan perdaganganmu” (HR.Iman Nasa’i dan Tarmizi).
Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana membangun kekuatan ekonomi yang memanfaatkan segala potensi yang dimiliki oleh masjid, baik itu potensi jamaah, potensi lokasi masjid, potensi ekonomi masyarakat sekitar masjid, dan potensi-potensi lainnya. Bila kesemua potensi tersebut dapat dikelola dengan baik, maka yakinlah bahwa problematika pengangguran dan kemiskinan, yang menjadi musuh utama umat islam dewasa ini, akan dapat diminimalisasi.

LANGKAH - LANGKAH YANG DAPAT DILAKUKAN

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan didalam membangun dan merealisasikan potensi kekuatan umat berbasis masjid.
Langkah-langkah tersebut antara lain :
Mendata potensi jemaah masjid, sudah saatnya pengurus masjid memiliki data potensi jamaah yang dimilikinya. Jika kita cermati, maka jumlah masjid yang memiliki data potensi jamaah masih terbilang sangat sedikit. Kalaupun ada, maka kualitas data yang dimiliki umumnya masih kurang memuaskan. Untuk itu, sebagai langkah awal didalam membangun kekuatan ekonomi masjid, maka ketersediaan data potensi ini menjadi sebuah keharusan.
Data ini, paling tidak meliputi :
• Pertama , data jamaah yang terkategorikan mampu dan tidak mampu, dengan standart yang ditetapkan oleh pengurus masjid, termasuk lokasi persebaran tempat tinggalnya.
• Kedua, diversifikasi mata pencaharian masing-masing individu jamaah masjid 
• Ketiga, latar belakang pendidikan para jamaah, termasuk data kependudukan lainnya yang bersifat standart, seperti usia dan jenis kelamin.

Pengurus masjid lainnya menganalisis pula tingkat partisipasi masing-masing dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh pihak masjid. Hal ini dapat dijadikan sebagai indikator komitmen yang bersangkutan di dalam memakmurkan masjid.

MENDATA POTENSI EKONOMI LINGKUNGAN DISEKITAR MASJID

Langkah selanjutnya adalah mendata potensi ekonomi masyarakat yang tinggal disekitar masjid, termasuk menganalisis potensi strategis lokasi masjid. Tentu saja masjid yang berlokasi di daerah perumahan yang mayoritas penduduknya bekerja pada sektor jasa, akan memiliki potensi yang berbeda dengan masjid yang berlokasi di wilayah yang didiami oleh mayoritas petani atau nelayan.

Analisis yang tepat akan menggiring pada pemilihan aktifitas ekonomi yang tepat. Misalnya, untuk wilayah perumahan yang tidak memiliki toko, yang menjual kebutuhan dasar rumah tangga, maka masjid dapat membuka usaha toko untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Atau masjid dapat membuka usaha pengadaan pupuk murah bagi petani, apabila mayoritas penduduk disekitar masjid adalah petani, namun memiliki kesulitan didalam mendapatkan pupuk murah.
Masih banyak contoh lainnya, akan tetapi yang terpenting adalah pihak pengelola masjid harus mampu menangkap kebutuhan masyarakat sekitar, sehingga ini akan memberikan ruang dan peluang bagi pengembangan aktifitas ekonomi masjid.

Menggandeng mitra yang berasal dari bank syariah, BPRS syariah, maupun lembaga keuangan syariah (LKS) non Bank lainnya pada langkah selanjutnya, pihak masjid sebaiknya menggandeng mitra/partner yang berasal dari lembaga keuangan syariah, baik institusi keuangan seperti bank syariah dan BPRS syariah, maupun institusi non bank seperti BMT (Baitul Maal Wa At-Tamwil) hal ini sangat penting untuk dilakukan, disamping sebagai syiar dan dakwah, juga untuk menumbuhkan kesadaran berekonomi secara islam bagi mayarakat umum.

Pihak masjid pun akan mendapatkan tambahan sumber pembiayaan bagi kegiatan operasionalnya. Bagi pihak Bank Syariah, hal ini merupakan peluang dan kesempatan untuk memperluas pasar, dengan menyerap segmen masyarakat sekitar masjid secara lebih optimal. Bahkan pihak bank-pun dapat membuka kantor cabang pembantu, atau kantor kas yang berlokasi di sekitar masjid dengan tujuan untuk menjaring nasabah potensial.memperkuat jaringa ekonomi dengan masjid lainnya didalam era global dewasa ini, salah saru sumber kekuatan bisnis adalah terletak pada kekuatan jaringan yang dimiliki. Semakin luas jaringan, semakin kuat pula bisnis yang dimiliki.

Kerena itulah, masjid harus memanfaatkan secara optimal potensi jaringan yang dimilikinya. Jaringan merupakan salah satu sumber kekuatan umat yang harus dikelola dengan baik, sehingga akan memiliki manfaat yang bersifat luas. Sebagai contoh, dengan jaringan yang baik, maka masjid A yang memiliki usaha untuk menjual beras petani disekitarnya, akan dapat memasarkan produknya kepada masjid B yang membutuhkan pasokan beras bagi kebutuhan masyarakat disekitarnya yang bekerja, misalkan, pada sentral industri jasa. 


Sumber : Buletin WISATA HATI


05 Agustus 2009

Kiat Membahagiakan Orang ( Menurut Tuntunan islam )



Pertemuan dengan WajahBerseri-seri

Sesungguhnya pertemuan antar sesama muslim adalah sebaik-baik pertemuan di muka bumi. (HR. Muslim).

Seakan-akan mereka adalah ranting-ranting cabang dari pohon yang satu. Inilah hakekat kehidupan dan rasa persaudaraan yang benar. Urwah bin Zubair berkata, hendaklah kamu memiliki wajah yang selalu berseri-seri dan tutur kata yang halus maka kau akan dicintai manusia serta kamu termasuk orang yang telah menjadi penderma bagi mereka.

Al Fudhail bin Iyadh berkata, pandangan muslim pada saudaranya dengan wajah yang menggambarkan perasaan cinta dan kasih sayang adalah ibadah.
Dan bukankah wajah ceria menandakan apa yang ada di dalam hati? Bila hati telah menyatu maka kebaikan akan dengan mudahnya mengalir dari kedua belah pihak.

 Saling Memberi Nasehat

Memberi nasehat adalah bukti perhatian dan kecintaan seseorang kepada orang yang ia nasehati. Beliau menjawab, untuk Allah, RasulNya dan para pemimpin umat Islam serta orang-orang pada umumnya." (HR. Muslim)

Dan diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu Anhu bahwasanya ia berkata: :
"Aku berbai'at kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk mendirikan shalat, membayar zakat dan memberi nasehat kepada setiap muslim." Dengan nasehat seorang muslim yang hendak melakukan kesalahan akan segera meninggal-kannya. Bila terlanjur melakukan-nya maka kesalahan yang dilakukannya tidak sampai menjadi kebiasaan.
Karena itu sering orang tidak bisa melupakan kebaikan kawan yang telah menasehatinya sehingga ia termasuk orang yang ta'at kepada Allah. Dan di situlah ia merasakan makna dan kebahagiaan pertemanan. Untuk itu kita harus bersabar dalam menghadapi resiko memberi nasehat. 

Memenuhi Undangan.

Sungguh amat membahagiakan bila kita mengundang kawan dan kolega dalam suatu acara yang kita selenggarakan kemudian mereka datang. Sebaliknya akan sangat kita sesalkan dan bahkan menyakitkan bila mereka menolak datang. Karena itu, memenuhi undangan berarti membahagiakan orang lain, mematri hakekat persaudaraan dan menambah kecintaan sesama muslim. (HR.Muslim)

Bahkan Ibnu Umar Radhiallahu meriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa tidak memenuhi undangan (yang dibenarkan syara') sebagai salah satu bentuk kemaksiatan kepada Allah dan RasulNya (HR. Muslim). Karena itu, jika tidak ada udzur (yang dibenarkan syara') hendaknya kita menghadiri undangan. 

Menjenguk Orang Sakit

Di antara hak seorang muslim atas muslim lainnya -seperti ditegaskan dalam hadits riwayat Muslim- adalah bila ia sakit maka ia berhak untuk dijenguk. Hak adalah sesuatu yang harus dimiliki. Sebagaimana orang fakir miskin berhak atas sebagian harta orang-orang kaya. Rasa sakitnya akan sedikit terobati, apalagi bila yang menjenguk pandai menghibur dan memberikan harapan serta nasehat.
Karena itu tak tanggung-tanggung, Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam mengumpamakan orang yang menjenguk si sakit dengan sabdanya:

"Sesungguhnya seseorang itu bila menjenguk saudaranya yang sakit senantiasa dalam khurfatul jannah sampai ia pulang. Ditanyakan, wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan khurfatul jannah itu? (HR. Muslim)

Begitulah, menjenguk orang sakit merupakan perbuatan yang dapat membahagiakan hati sesama muslim, dapat meringankan beban yang dideritanya dan mengingatkannya untuk tetap bersabar dengan ujian yang sedang dialaminya. 

Tidak Menjadi BebanOrang Lain

Karena itu, dalam hubungan antar sesama hendaknya kita selalu mengusahakan untuk bisa menolong dan membantu orang lain. Bukan sebaliknya, selalu menghujaninya dengan berbagai permintaan dan hal-hal yang membuatnya merasa sempit, tertekan dan merugi. Selalu menggantungkan kepada orang lain dan menjadi beban baginya adalah perbuatan tidak terpuji, bahkan lambat laun akan merusak hubungan kita dengan sesama.

Ia kemudian turun dan mengambilnya sendiri karena tidak mau membuat repot orang lain.
Karena itu, Al Fudhail menasehatkan agar dalam bertemu dan mengunjungi saudara hendaknya kita tidak memberikan PR (pekerjaan rumah) baginya dalam suatu masalah. Maka tepat sekali ungkapan yang terkenal di kalangan orang-orang zuhud, janganlah kau ingini apa yang dimiliki orang lain, niscaya mereka menyayangimu. Kasih sayang dan kebahagiaan akan tercipta manakala kita senang menolong dan tak suka menjadi beban bagi orang lain. 

Membayarkan Hutang Orang Lain

Lepas dari hutang berarti kebahagiaan dan ketenangan hidup. Maka termasuk membahagiakan orang lain jika kita membayarkan hutang mereka.

Dalam kehidupan orang-orang shaleh dikisahkan, Masyruq pernah mempunyai hutang yang sangat banyak. Tetapi secara diam-diam Khaitsamah membayarkan dan melunasi hutang-hutang Masyruq sehingga ia terbebas dari lilitan hutang. Dan pada saat lain, Khaitsamah juga mengalami lilitan hutang yang amat banyak. Dengan membayarkan hutang orang lain berarti kita memudahkan kehidupannya juga keluarganya. Kita pun dengan demikian -insya'allah - akan dimudahkan Allah dalam kehidupan kita, baik di duniamaupun di akherat. 

Mendo'akan Orang Islam

Di antara hal yang harus dimiliki oleh setiap muslim adalah rasa peduli kepada sesamanya dengan selalu mendo'akan mereka, baik yang masih hidup maupun mereka yang sudah meninggal, seperti berdo'a untuk dirinya sendiri. Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

"Doanya seorang saudara muslim untuk saudaranya muslim yang lain tanpa sepengetahuannya adalah tidak ditolak."
Marilah memperbanyak do'a untuk saudara-saudara kita sesama muslim. Sesungguhnya masih banyak kebaikan yang dapat kita lakukan sehingga orang lain menjadi bahagia. 

Bila kita senang dengan suatu perlakuan -dan tentu ia tidak dalam hal maksiat kepada Allah- maka pasti orang lain akan senang pula dengan perlakuan yang sama. Itulah yang semestinya terus menerus kita lakukan sehingga dengan demikian kita menjadi penabur kebaikan dan kebahagiaan bagi orang lain di muka bumi ini. 

Dirilis kembali oleh Rudy Indrasakti




04 Agustus 2009

MARAH ADALAH SIFAT YANG JELEK

Abul Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Said Alkhundri r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Marah itu bara api maka siapa yang merasakan demikian, jika ia sedang berdiri makan hendaklah duduk, bila ia sedang duduk hendaklah berbaring."
 
Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Said Alkhundri r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Awasilah kamu dari marah-marah, kerana marah itu berarti menyalakan api dalam hati anak Adam, tidakkah kamu melihat seseorang yang marah itu merah matanya dan tegang urat-urat lehernya, kerana itu bila seseorang merasakan yang demikian hendaklah berbaring dan meletakkan badannya ditanah."

  Sesungguhnya ada diantara kamu orang yang lekas marah tetapi juga lekas reda, maka ini seimbang dan ada yang lambat marah dan lambat sembuh (reda), ini juga seimbang, dan sebaik-baik kamu lambat marah dan cepat reda. dan sejahat-jahat kamu yang cepat marah dan lambat sembuhnya."

  Abu Umamah Albahili r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Siapa yang dapat menahan marah padahal ia dapat (kuasa) untuk melepaskan marahnya itu, tetapi tidak dilepaskan bahkan tetap ditahan/disabarkan, maka Allah s.w.t. mengisi hatinya dengan keridhoan pada hari kiamat."

  Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Siapa yang tidak mempunyai tiga sifat, tidak dapat merasa manisnya iman yaitu:

• Kesabaran untuk menolak kebodohan orang yang bodoh 
• Warak yang dapat mencegah dari yang haram 
• dan akhlak untuk bergaul dengan manusia (dan akhlak untuk masyarakat)

  Abul Laits berkata: "Seharusnya seorang mukmin bersifat sabar, tenang sebab itu termasuk sifat orang muttaqin yang dipuji oleh Allah s.w.t".

  Allah s.w.t. berfirman (Yang berbunyi: "Walaman shobara waghafara inna dzailika lamin azmilumur." (Yang bermaksud): "Dan siapa yang sabar dan memaafkan maka itu termasuk seutama-utamanya sesuatu."

  Allah s.w.t. berfirman (Yang berbunyi): "Wala tastawil hasanatu walas sayyi'atu idfa billati hiya ahsan fa idzalladzi bainaka wa bainahu adaa watun ka'annahu waliyyun hamim." (Yang bermaksud): "Dan tidak dapat disamakan kebaikan dengan kejahatan, tolaklah segala sesuatu itu dengan cara yang baik, tiba-tiba seorang yang musuh denganmu dapat berubah menjadi kawan yang akrab."

  Juga Allah s.w.t. memuji Nabi Ibrahim a.s. dialam ayat (Yang berbunyi): "Inna Ibrahim lahalimun awwahun mubin." (Yang bermaksud): "Ssesungguhnya Ibrahim seorang yang sabar, selalu mengingati dosa dan kesalahan dirinya dan bertaubat."

  Juga Allah s.w.t. berfirman didalam ayat (Yang berbunyi): "Fasbir kama shobaro ulul azmi minarrusuli." (Yang bermaksud): "Maka sabarlah sebagaimana kesabaran orang-orang yang bersemangat besar dari para rasul sebelummu."

  Wabh bin Munabbih berkata: "Ada seorang ahli ibadat Bani Israil akan disesatkan oleh syaitan laknatullah tetapi tidak dapat, maka pada suatu hari ia keluar untuk suatu hajat kepentingan, maka diikuti oelh syaitan laknatullah kalau-kalau ia mendapat kesempatan, maka syaitan laknatullah berusaha dari ayahwat dan marahnya juga tidak dapat, maka diusahakan dari ketakutannya, maka dibayangkan kepadanya seolah-olah akan dijatuhi batu bukit yang besar, tetapi ia selalu berdzikir kepada Allah s.w.t. sehingga terhindar, dan adakalanya semua itu tidak dihiraukan, dan adakalanya berupa ular yang melingkar dikakinya ketika sembahyang dan merambat kebadan sehingga keatas kepalanya, kemudian ditempat sujudnya, manakala akan sujud ular itu akan membuka mulutnya seakan-akan akan menelan kepalanya, maka ia hanya menyingkirkan dengan tangannya sampai dapat bersujud.
Dan ketika selesai sembahyang, syaitan laknatullah datang kepadanya dan berkata:
"Saya sudah  usaha untuk menyesatkan kamu tetapi tidak dapat, dan kini saya akan berkawan saja kepadamu."
Jawabnya: " Sedang pada saat engkau menakuti aku, alhamdulillah saya tidak takut, demikian pula sekarang saya tidak ingin bersahabat dengan engkau.".
Lalu syaitan laknatullah itu berkata:
"Apakah tidak tahu bagaimana keadaan keluargamu sepeninggalanmu?"
jawabnya: "Saya telah mati sebelum mereka."
"Lalu apakah kamu tidak tanya kepadaku bagaimana aku dapat menyesatkan anak Adam?: Tanya syaitan laknatullah itu.
Jawab orang alim itu: "Baiklah, bagaimana kamu menyesatkan anak Adam?"
Syaitan laknatullah menjawab: "Dengan tiga macam iaitu:

• Bakhil (kikir) 
• Marah 
• dan mabuk

Sebab manusia jika bakhil kami bayangkan kepadanya bahwa hartanya sangat sedikit sehingga ia sayang untuk mengeluarkan untuk kewajipan-kewajipannya, dan bila ia pemarah, maka kami permainkan ia sebagai anak kecil mempermainkan bola, meskipun ia dapat menghidupkan orang mati dengan doanya, kami tetap tidak patah harapan untuk dapat menyesatkannya, sebab ia membangun dan kami yang merobohkan dengan satu khalimat sahaja. Demikian pula jika seseorang telah mabuk, maka kami tuntun dengan mudah kepada segala kejahatan sebagaimana kambing dituntun sesuka kami." Disini syaitan laknatullah telah menyatakan baawa orang yang marah jatuh ketangan syaitan laknatullah bagaikan bola ditangan anak-anak kecil, kerana itu seseorang harus sabar supaya tidak jatuh dalam tawanan syaitan laknatullah dan tidak sampai gugur dalam perbuatannya."

  Iblis laknatullah datang kepada Nabi Musa a.s. dan berkata: "Engkaulah yang dipilih Allah s.w.t. untuk risalah dan langsung berkata-kata kepadamu, sedang aku seorang makhluk biasa, yang ingin juga bertaubat kepada Tuhan, maka tolonglah aku semoga dapat diterima taubatku." Maka Nabi Musa a.s. merasa gembira lalu ia wuduk dan sembahyang kemudian ia berdoa: "Ya Tuhan, iblis (laknatullah) seorang makhlukMu, ia akan bertaubat, maka terimalah taubatnya." Maka turun wahyu kepada Nabi Musa a.s.: "Ya Musa, dia tidak akan bertaubat." jawab Nabi Musa a.s.: "Ya Tuhan, dia minta taubat." Maka turun wahyu kepada Nabi Musa a.s.: "Aku telah menerima permintaamu Musa, maka suruhlah ia sujud kepada kubur Adam, maka Aku akan menerima taubatnya." Nabi Musa a.s.sangat gembira dan menyampaikan suara wahyu itu kepada Iblis laknatullah, tiba-tiba iblis laknatullah itu marah dan sombong serta berkata: "Saya tidak sujud kepadanya dimasa hidupnya, bagaimana akan sujud sesudah matinya?" Lalu iblis laknatullah berkata: "Hai Musa, kerana engkau telah menolong aku kepada Tuhan, maka kini engkau berhak mendapat hadiah daripadaku, maka saya pesan kepadamu tiga macam yaitu:

• Ingatlah kepadaku ketika marah, sebab aku didalam tubuhmu mengikuti saluran darah 
• Ingatlah kepadaku ketika menghadapi musuh didalam perang sebab aku datang kepada anak Adam mengingatkan kepadanya keadaan isteri dan anak keluarganya dan hartanya sehingga ia lari kebelakang 
• Awas, jangan duduk sendirian dengan wanita yang bukan muhrim sebab aku sebagai utusannya kepadamu dan utusanku kepadanya 

  Luqman Alhakiem berkata kepada anak lelakinya: "Hai anak, tiga macam yang tidak diketahui kecuali pada tiga macam yaitu:

• Orang yang sabar tidak diketahui kecuali ketika marah 
• Orang yang berani tidak diketahui kecuali ketika perang 
• Saudara tidak diketahui kecuali ketika berhajat (berkepentingan) 
  Tiga macam dari akhlak pada orang yang baik budi yaitu:

• Memaafkan orang yang zalim kepadamu 
• Memberi kepada orang yang bakhil kepadamu 
• Membantu orang yang bersalah kepadamu

  Nabi Muhammad s.a.w. bertanya kepada Jibril tentang tafsir ayat (Yang berbunyi): "Khudzil afwa wa'mur bil urfi wa'aridh anil jahilin?." Jawab Jibril: "Aku akan bertanya kepada Allah s.w.t." dan Jibril berkata: "Ya Muhammad, sesungguhnya Allah s.w.t. menyuruhmu menghubungi kerabat yang memutuskan hubungan padamu dan memberi pada orang yang bakil kepadamu dan memaafkan orang yang aniaya kepadamu." 

  Ibn Ajlan dari Said Almagburi dari Abuhurairah r.a. berkata: "Ada seorang memaki Abu Bakar Assisiq r.a. sedang Nabi Muhammad s.a.w. duduk, maka Nabi Muhammad s.a.w. diam. Abu bakar menjawab, maka segera Nabi Muhammad s.a.w. bangun dari temaptnya, maka dikejar oleh Abu Bakar sambil berkata: "Ya Rasulullah, dia maki-maki saya dan engkau diam, ketika saya jawab, tiba-tiba engkau bangun pergi?" Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: "Ssesungguhnya Malaikat telah mengembalikan semua makian orang itu kepadanya ketika engkau diam dan ketika engkau menjawab makian, maka pergilah Malaikat itu dan duduk syaitan laknatullah, maka saya tidak suka duduk ditempat duduk bersama syaitan laknatullah." Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Tiga macam  hak yaitu: 

• Tiada seorang yang dianiaya lalu memaafkannya kerana mengharap keridhoan Allah s.w.t. melainkan pasti ditambah kemuliaan oleh Allah s.w.t. 
• Tiada seorang yang membuka jalan meminta-minta kerana ingin bertambah kekayaan melainkan ditambah kekurangannya (kemiskinan) oleh Allah s.w.t. 
• Tiada seorang yang memberi sesuatu ikhlas kerana Allah s.w.t. melainkan ditambah banyak oleh Allah s.w.t.  

  Hai Bani Israil, semua urusan itu hanya terbahagi tiga yaitu: 

•  Urusan yang nyata baiknya maka ikutilah 
•  Urusan yang nyata sesatnya maka tinggalkanlah 
• Urusan yang masih ragu kembalilah kepada Allah s.w.t. dan Rasulullah (Al-Quran dan      sunnaturasul)  
  
  Seorang cendikiawan berkata: "Zuhud (tidak rakus) didunia ini kerana empat iaitu:
• Percaya benar pada janji Allah s.w.t. didunia dan diakhirat 
• Harus menganggap puji dan makian orang-orang itu sama sahaja (tidak merasa besar kerana dipuji dan tidak merasa rendah kerana dihina orang) 
• Ikhlas dalam amal perbuatanmu 
• Memaafkan orang yang aniaya padanya dan tidak marah-marah kepada budak sahayanya dan menjadi tenang sabar 

  Abu Darda r.a. berkata: "Seorang berkata kepadanya: "Ajarkan kepadaku beberapa kalimah yang berguna bagiku." Abu Darda berkata: "Saya berwasiat kepadamu beberapa kalimah, siapa yang mengamalkan maka ia mendapat darjat yang tinggi sebagai pahalanya iaitu:

• Jangan makan kecuali yang halal 
• Anggaplah dirimu dari golongan yang mati 
• Serahkan dirimu kepada Allah s.w.t, maka siapa yang maki atau mengganggu kepadamu maka katakan: "Kehormatanku telah aku serahkan kepada Allah s.w.t." 
• Jika engkau berbuat kesalahan atau dosa maka segera minta ampun kepada Allah s.w.t. 
  Abul Laits berkata: "Pergunakanlah sabar ketika marah dan hindarkan kamu dari keburukan ketika marah kerana keburukan dalam marah itu mengakibatkan tiga macam iaitu:

• Menyesal diri 
• Tercela oleh orang-orang 
• Siksa dari Allah s.w.t. 

  Sebab sabar itu memang pahit pada mulanya tetapi manis pada akhirnya, sebagaimana kata pujangga: "Alhilmu awwalahu murrun madzaqatuhu, laakin akhiruhu ahla minal asali ashshabru kashshabiri murrun fi madzaqatihi laakin awaqibuhu ahla minal asali." (Yang bermaksud): "Sabar itu pada mulanya pahit rasanya tetapi akibatnya lebih manis dari madu. Sabar itu bagaikan jadam pahit rasanya tetapi akibatnya lebih manis dari madu."
Dirilis kembali oleh Rudy Indrasakti



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...